Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Gen Z dan Tren Tak Mandi untuk Daya Tarik Seksual

Sejumlah pemuda Gen Z di media sosial memilih tidak mandi demi memaksimalkan aroma alami tubuh, berdasarkan keyakinan bahwa bau keringat dapat meningkatkan ketertarikan seksual.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 18 Oktober 2026, 21.02 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 24x dibuka
Gen Z dan Tren Tak Mandi untuk Daya Tarik Seksual📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Di tengah budaya kebersihan yang umum dianut masyarakat, muncul fenomena menarik di kalangan anak muda, khususnya Gen Z, yang memilih sengaja melewatkan mandi sebagai bagian dari gaya hidup digital. Tren ini dikenal sebagai pheromone-maxxing, yang berlandaskan anggapan bahwa aroma alami tubuh, termasuk keringat, bisa menjadi daya tarik seksual. Penganutnya percaya bahwa dengan mengurangi penggunaan deodoran, tidak mandi, atau bahkan memakai pakaian bekas pakai, mereka bisa menarik perhatian lawan jenis secara alami.

Tren ini mulai viral di platform TikTok, di mana sejumlah konten menunjukkan praktik ekstrem seperti meminum air seni sendiri demi "detoksifikasi" dan mempertahankan aroma tubuh alami. Meski terdengar radikal, praktik ini didukung oleh narasi bahwa feromon—senyawa kimia yang memengaruhi perilaku individu lain dari spesies yang sama—berperan dalam proses ketertarikan. Beberapa percaya bahwa aroma tubuh yang kuat, terutama dari keringat pria, dapat memicu respons psikologis positif pada wanita.

Namun, sains tidak sepenuhnya mendukung klaim bahwa tidak mandi otomatis meningkatkan daya tarik. Studi klasik yang dikenal sebagai 'sweaty T-shirt study' menunjukkan bahwa wanita cenderung lebih menyukai aroma tubuh pria yang memiliki perbedaan gen MHC (major histocompatibility complex) dibandingkan dirinya sendiri, yang berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh. Ini menunjukkan bahwa preferensi aroma bisa dipengaruhi oleh faktor genetik, bukan sekadar kebersihan atau aroma yang dibiarkan tanpa perawatan.

Terkait hal ini, tidak semua penganut tren ini benar-benar menerapkan gaya hidup tersebut secara nyata. Banyak yang mengakui konten semacam itu dibuat untuk menarik perhatian dan memicu interaksi di media sosial, bukan sebagai pedoman kehidupan nyata. Fakta bahwa tren ini ramai dibicarakan tetapi tidak diikuti secara luas menunjukkan bahwa mayoritas Gen Z tetap menjaga kebersihan, meski tertarik pada isu-isu yang menantang norma sosial.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya