Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Gubernur DKI Soroti Ego Pemimpin Sebagai Hambatan Utama

Pramono Anung menyoroti ego pemimpin sebagai akar permasalahan utama dalam koordinasi antarlembaga di Jakarta, mengungkapkan pentingnya komunikasi terbuka untuk menyelesaikan isu strategis.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 17 Oktober 2026, 15.22 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 20x dibuka
Gubernur DKI Soroti Ego Pemimpin Sebagai Hambatan Utama📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan bahwa salah satu hambatan utama dalam tata kelola kota selama ini berasal dari sikap egoistik para pemimpin institusi. Pernyataan ini disampaikannya saat meresmikan Masjid Apung An-Nur di Jakarta Utara, menyoroti keterbatasan kolaborasi antarlembaga yang sempat menghambat proyek strategis. Ia menekankan bahwa ketiadaan komunikasi yang efektif antarpihak bertanggung jawab menjadi penghambat utama kinerja pemerintahan daerah.

Dalam kesempatan tersebut, Pramono mengisahkan pengalaman awal masa jabatannya ketika berencana menyambungkan Jakarta International Stadium (JIS) dengan kawasan Ancol. Ia menyebut bahwa pada masa itu, Direktur Utama JIS dan Direktur Utama PT Pembangunan Jaya Ancol bahkan tidak bisa berdialog secara langsung. "Ketemu ngomong aja nggak bisa," ujarnya dengan nada kritis, menunjukkan betapa parahnya isolasi antarlembaga yang menghambat pembangunan kota.

Namun, setelah komunikasi dibuka dan saling bertemu, berbagai persoalan mulai teratasi. Pramono mencontohkan suksesnya penyelenggaraan konser internasional seperti The Weeknd dan Avenged Sevenfold di JIS, yang berjalan lancar berkat ketersediaan parkir di Ancol dan akses transportasi umum yang terkoordinasi. Ia menilai bahwa keterbukaan komunikasi antarpihak kunci dalam menjamin kelancaran kegiatan publik.

Pria yang kini menjabat sebagai gubernur DKI itu menyampaikan apresiasi kepada pimpinan JIS dan PT Pembangunan Jaya Ancol yang kini telah mampu bekerja sama secara harmonis. Ia mengaku sempat bingung dengan kondisi sebelumnya, di mana bahkan pertemuan sederhana pun terasa sulit. "Saya juga enggak habis pikir, ketemu aja nggak bisa," katanya, sambil menambahkan bahwa keberadaan pemimpin yang terbuka dan mudah diakses menjadi faktor pendukung perubahan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya