Sabtu, 26 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Melemah 1,2% ke Level 6.298 Akibat Tekanan Global dan Suku Bunga Tetap

Indeks Harga Saham Gabungan turun 1,2% menjadi 6.298,61 pada perdagangan Kamis, dipengaruhi tekanan jual dalam negeri dan lonjakan imbal hasil obligasi AS.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 24 September 2026, 23.02 WITA·👁 7 orang membaca· 0 hari ini · 19x dibuka
IHSG Melemah 1,2% ke Level 6.298 Akibat Tekanan Global dan Suku Bunga Tetap📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan hari Kamis, 24 September 2026, di zona merah dengan penurunan signifikan sebesar 76,31 poin atau 1,20%, berakhir di level 6.298,61. Penurunan ini terjadi setelah indeks dibuka melemah di 6.364,98, berada di bawah level penutupan sebelumnya. Pergerakan indeks mencatat level tertinggi harian di 6.368,57 pada awal sesi, namun seiring berjalannya waktu, tekanan jual makin menguat dan mendorong IHSG menyentuh titik terendah di 6.287,46 sebelum akhirnya rebound tipis di sesi akhir.

Hampir sebagian besar saham mengalami penurunan, dengan 487 emiten melemah dibandingkan 198 yang menguat dan 278 lainnya stagnan. Pergerakan intraday menunjukkan dominasi penjual sejak sesi pagi, meski terjadi rebound sementara di kisaran 6.340–6.350. Namun, upaya tersebut gagal menembus level tertinggi sebelumnya, dan tekanan jual kembali muncul menjelang tengah hari, berlanjut hingga sesi kedua. Akhirnya, indeks bergerak sideways di kisaran 6.290–6.310 hingga menjelang penutupan, menutup hari di bawah 6.300.

Volume perdagangan hari ini mencapai 25,3 miliar saham atau 253 juta lot, dengan nilai transaksi mencapai Rp9,69 triliun—setara 145% dari rata-rata harian 17,44 miliar saham. Kenaikan volume ini menunjukkan aktivitas pasar yang cukup tinggi, didorong oleh kekhawatiran terhadap kebijakan moneter global dan respons pasar terhadap keputusan Bank Indonesia. Rapat Dewan Gubernur BI pada 22–23 September 2026 memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) pada level 5,75%, sesuai ekspektasi pasar yang diperkirakan oleh 8 dari 11 lembaga survei.

Keputusan tersebut menjadi penanda tiga pertemuan berturut-turut BI mempertahankan tingkat suku bunga, setelah kenaikan bertahap dari 4,75% pada Mei 2026 hingga mencapai puncak 5,75% pada 18 Juni 2026. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS menunjukkan lonjakan tajam, dengan yield Treasury 10 tahun melonjak menjadi 5,11%—level tertinggi sejak 2007—serta yield 2 tahun mencapai 4,9%, tertinggi sejak 2024. Kenaikan ini dipicu data ekonomi AS yang menunjukkan aktivitas bisnis kuat dan tekanan inflasi meningkat, memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.

Lonjakan imbal hasil global berdampak langsung pada pasar keuangan Indonesia, dengan potensi menaikkan biaya pembiayaan dan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN). Kenaikan tersebut dapat memperberat beban utang pemerintah dan memperkuat tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Dengan kondisi pasar yang sensitif, IHSG mengalami tekanan berkelanjutan sepanjang hari, menandakan ketidakpastian yang masih tinggi terhadap arah kebijakan moneter global dan respons pasar terhadap pergerakan suku bunga domestik.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya