IHSG Melemah 1,2% ke Level 6.298 Akibat Tekanan Global dan Suku Bunga Tetap
Indeks Harga Saham Gabungan turun 1,2% menjadi 6.298,61 pada perdagangan Kamis, dipengaruhi tekanan jual dalam negeri dan lonjakan imbal hasil obligasi AS.
Redaksi iNarasikita·Kamis, 24 September 2026, 23.02 WITA·👁 7 orang membaca· 0 hari ini · 20x dibuka
📷 CNBC IndonesiaKendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan hari Kamis, 24 September 2026, di zona merah dengan penurunan signifikan sebesar 76,31 poin atau 1,20%, berakhir di level 6.298,61. Penurunan ini terjadi setelah indeks dibuka melemah di 6.364,98, berada di bawah level penutupan sebelumnya. Pergerakan indeks mencatat level tertinggi harian di 6.368,57 pada awal sesi, namun seiring berjalannya waktu, tekanan jual makin menguat dan mendorong IHSG menyentuh titik terendah di 6.287,46 sebelum akhirnya rebound tipis di sesi akhir.
Hampir sebagian besar saham mengalami penurunan, dengan 487 emiten melemah dibandingkan 198 yang menguat dan 278 lainnya stagnan. Pergerakan intraday menunjukkan dominasi penjual sejak sesi pagi, meski terjadi rebound sementara di kisaran 6.340–6.350. Namun, upaya tersebut gagal menembus level tertinggi sebelumnya, dan tekanan jual kembali muncul menjelang tengah hari, berlanjut hingga sesi kedua. Akhirnya, indeks bergerak sideways di kisaran 6.290–6.310 hingga menjelang penutupan, menutup hari di bawah 6.300.
Volume perdagangan hari ini mencapai 25,3 miliar saham atau 253 juta lot, dengan nilai transaksi mencapai Rp9,69 triliun—setara 145% dari rata-rata harian 17,44 miliar saham. Kenaikan volume ini menunjukkan aktivitas pasar yang cukup tinggi, didorong oleh kekhawatiran terhadap kebijakan moneter global dan respons pasar terhadap keputusan Bank Indonesia. Rapat Dewan Gubernur BI pada 22–23 September 2026 memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) pada level 5,75%, sesuai ekspektasi pasar yang diperkirakan oleh 8 dari 11 lembaga survei.
Keputusan tersebut menjadi penanda tiga pertemuan berturut-turut BI mempertahankan tingkat suku bunga, setelah kenaikan bertahap dari 4,75% pada Mei 2026 hingga mencapai puncak 5,75% pada 18 Juni 2026. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS menunjukkan lonjakan tajam, dengan yield Treasury 10 tahun melonjak menjadi 5,11%—level tertinggi sejak 2007—serta yield 2 tahun mencapai 4,9%, tertinggi sejak 2024. Kenaikan ini dipicu data ekonomi AS yang menunjukkan aktivitas bisnis kuat dan tekanan inflasi meningkat, memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
Lonjakan imbal hasil global berdampak langsung pada pasar keuangan Indonesia, dengan potensi menaikkan biaya pembiayaan dan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN). Kenaikan tersebut dapat memperberat beban utang pemerintah dan memperkuat tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Dengan kondisi pasar yang sensitif, IHSG mengalami tekanan berkelanjutan sepanjang hari, menandakan ketidakpastian yang masih tinggi terhadap arah kebijakan moneter global dan respons pasar terhadap pergerakan suku bunga domestik.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Asing Borong 10 Saham Ini Saat IHSG Melemah
Investor asing menunjukkan ketertarikan terhadap 10 saham unggulan meski IHSG turun ke level 6.298,61, dengan pembelian bersih mencapai miliaran rupiah.
26 September 2026

Yield AS Meningkat, Pasar Asia Beragam
Pergerakan bursa Asia dipengaruhi kenaikan yield obligasi AS ke level tertinggi sejak 2007, dengan pasar memantau data ekonomi AS menjelang keputusan kebijakan moneter The Fed.
26 September 2026

Yield Obligasi AS Sentuh Rekor 22 Tahun, Tekanan Finansial Membesar
Imbal hasil obligasi AS jangka panjang melonjak ke level tertinggi dalam dua dekade, menandai tekanan besar pada pasar keuangan global akibat inflasi, harga energi tinggi, dan ekspektasi kebijakan moneter yang ketat.
26 September 2026

BI dan BCTL Perkuat Kerja Sama Sistem Pembayaran Digital
Kerja sama antara Bank Indonesia dan Banco Central de Timor Leste memperluas jangkauan QRIS lintas negara ke Timor Leste, memperkuat konektivitas ekonomi regional.
26 September 2026
Berita Lainnya

Hongqi Perkuat Kehadiran di Indonesia dengan Dealer Pertama di Mampang
Sabtu, 26 September 2026, 09.19 WITA

Redmi Note 17 Dilengkapi Proteksi 36 Bulan untuk Pengguna Jangka Panjang
Sabtu, 26 September 2026, 09.09 WITA

Prabowo Cairkan Rp100,1 Triliun untuk Pemulihan Bencana Sumatra
Sabtu, 26 September 2026, 09.08 WITA

Koperasi Desa Diminta Manfaatkan Fasilitas di Kampung Nelayan Merah Putih
Sabtu, 26 September 2026, 09.07 WITA

Tongke-Tongke Sinjai Berubah Jadi Pelabuhan Modern Berbasis Nelayan
Sabtu, 26 September 2026, 09.07 WITA

Singapura Bebaskan Petinggi Perusahaan dari Dakwaan Korupsi
Sabtu, 26 September 2026, 09.07 WITA

Warung Makan Gratis Sediakan 300 Porsi Harian untuk Warga
Sabtu, 26 September 2026, 09.06 WITA

PT CNI dan Pejabat ESDM Diduga Korupsi Nikel Rp401 Miliar
Sabtu, 26 September 2026, 09.06 WITA

