Sabtu, 26 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Melemah di Sesi Siang, Tekanan Global Dominasi

Indeks Harga Saham Gabungan turun 0,55% ke level 6.263,73 akibat tekanan jual dan kenaikan imbal hasil obligasi AS yang memicu aksi penjualan global.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 26 September 2026, 09.03 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 3x dibuka
IHSG Melemah di Sesi Siang, Tekanan Global Dominasi📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir melemah pada sesi siang hari, Jumat (25/9/2026), menutup perdagangan di posisi 6.263,73, merosot 34,88 poin atau 0,55% dari penutupan sebelumnya. Meski sempat menguat pada pembukaan pasar di level 6.315,53 dan menyentuh level tertinggi sesi di 6.328,41, indeks terus terkikis sepanjang hari hingga menyentuh level terendah harian di 6.261,47 sebelum akhirnya stabil di level penutupan. Pelemahan ini didorong dominasi saham yang turun, dengan 540 saham melemah, 275 tidak bergerak, dan hanya 148 saham yang menguat.

Volume perdagangan mencapai 14,57 miliar saham, berada di bawah rata-rata harian sebesar 17,44 miliar saham, sementara total lot yang diperdagangkan sebanyak 145,74 juta lot dengan nilai transaksi mencapai Rp4.344,17 triliun. Kondisi ini menunjukkan aktivitas pasar yang relatif lesu dibandingkan rata-rata. Investor kini menghadapi berbagai sentimen eksternal yang menekan pasar, termasuk pergerakan dolar AS, kenaikan yield obligasi AS, fluktuasi harga minyak, serta ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Dari dalam negeri, perhatian terfokus pada data pertumbuhan uang beredar, kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, serta hasil pembahasan mengenai kondisi ekonomi dan postur APBN tahun 2027. Di sisi lain, dua pejabat The Fed, Anna Paulson dari Philadelphia dan John Williams dari New York, menegaskan bahwa inflasi masih terlalu tinggi dan memerlukan pengetatan lebih lanjut. Kenaikan suku bunga acuan AS sebesar 25 basis poin ke rentang 3,75%-4,00% belum cukup untuk menekan inflasi yang tercatat 3,7% pada Juli, jauh di atas target 2%.

Lonjakan yield obligasi AS menjadi pemicu utama tekanan pasar global. Yield obligasi 30 tahun melonjak ke level 5,48%, tertinggi sejak 2004, sementara yield tenor 10 tahun menyentuh 5,20%, level tertinggi dalam lebih dari 22 tahun. Kenaikan ini dipicu kekhawatiran atas inflasi yang membandel, ekonomi AS yang tetap kuat, serta kenaikan belanja pemerintah yang dikhawatirkan memperpanjang tekanan inflasi. Investor mulai memperkirakan yield 10 tahun AS bisa menembus 6%, yang dianggap berpotensi menekan pasar keuangan dan perusahaan AS.

Di kawasan Asia-Pasifik, pergerakan bursa beragam. Pasar Jepang menunjukkan penguatan dengan Nikkei 225 naik 0,25% dan Topix menguat 0,40%, sementara pasar Australia melemah dengan S&P/ASX 200 turun 0,48%. Pergerakan ini terjadi di tengah ketegangan pasar global yang dipicu oleh kenaikan imbal hasil obligasi AS, yang mendorong aksi jual di pasar obligasi global dan meningkatkan biaya pinjaman secara luas.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya