Sabtu, 26 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Yield AS Meningkat, Pasar Asia Beragam

Pergerakan bursa Asia dipengaruhi kenaikan yield obligasi AS ke level tertinggi sejak 2007, dengan pasar memantau data ekonomi AS menjelang keputusan kebijakan moneter The Fed.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 26 September 2026, 09.04 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 4x dibuka
Yield AS Meningkat, Pasar Asia Beragam📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pasar saham Asia-Pasifik menunjukkan pergerakan bervariasi pada perdagangan Jumat (25/9/2026), dipengaruhi oleh lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Indeks utama Jepang, Nikkei 225, menguat 0,25% sementara Topix naik 0,40%, berbeda dengan S&P/ASX 200 Australia yang turun 0,48%. Pasar China dan Korea Selatan tidak aktif karena libur nasional.

Yield obligasi AS tenor 10 tahun mencapai 5,225% pada Kamis (24/9/2026), level tertinggi sejak 2007, sedangkan yield tenor 30 tahun menyentuh 5,502%. Kenaikan ini didorong oleh pernyataan hawkish Gubernur Federal Reserve Michael Barr, tekanan inflasi dari harga energi yang stabil akibat ketegangan geopolitik di Iran, serta data purchasing managers yang menunjukkan tekanan harga tetap kuat.

Pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga oleh The Fed pada Oktober mencapai 68%, berdasarkan analisis CME FedWatch Tool. Kenaikan tersebut berpotensi memperbesar biaya pinjaman bagi rumah tangga dan sektor usaha. Suku bunga hipotek tetap 30 tahun di AS telah melonjak menjadi 7,45%, mencatat rekor tertinggi sejak 2024, menandai kembali tren kenaikan biaya kredit rumah.

Ekonom Morgan Stanley, Heather Berger, menegaskan bahwa tren penurunan suku bunga kartu kredit dan pinjaman kendaraan yang berlangsung sejak pertengahan 2024 hingga awal 2026 telah berhenti. Kenaikan suku bunga hipotek kini menambah tekanan terhadap belanja konsumsi, yang diperkirakan akan memperlambat pertumbuhan riil konsumsi hingga 40 basis poin pada tahun depan.

Di Wall Street, Dow Jones melemah 0,6% dalam empat pekan berturut-turut, sementara S&P 500 menguat 0,7% dan Nasdaq melonjak 1,6% secara mingguan. Investor kini menanti rilis data ekonomi AS penting, termasuk sentimen konsumen dari University of Michigan dan laporan pesanan barang tahan lama, sebagai petunjuk terhadap arah kebijakan moneter mendatang.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya