Selasa, 15 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

IHSG Melemah di Awal Perdagangan Selasa

Indeks Harga Saham Gabungan turun 0,21% pada pembukaan perdagangan Selasa (15/9/2026), dipengaruhi pergantian menteri keuangan dan ketegangan geopolitik global.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 15 September 2026, 11.34 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 3x dibuka
IHSG Melemah di Awal Perdagangan Selasa📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada perdagangan Selasa, 15 September 2026, mencatat penurunan 13,78 poin atau 0,21% ke level 6.520,91. Pergerakan ini terjadi setelah penutupan sebelumnya di angka 6.534,69, dengan rentang fluktuasi awal berada di kisaran 6.520,21 hingga 6.549,60. Penurunan memperdalam hingga menyentuh 0,84% dalam beberapa menit pertama, menunjukkan tekanan menjelang rilis data ekonomi kunci dan dinamika politik domestik.

Pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa ke Suahasil Nazara menjadi perhatian utama investor. Setelah dilantik pada hari sebelumnya, Suahasil menegaskan komitmen menjaga kesehatan APBN dengan tetap membatasi defisit di bawah 3% terhadap PDB. Kejelasan arah kebijakan fiskal menjadi kunci bagi kepercayaan pasar, terlebih di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan ketidakpastian global.

Di kancah internasional, eskalasi konflik di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran pasar. Serangan kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap Arab Saudi pada Senin (14/9/2026) menambah ketegangan, menyusul gangguan sebelumnya pada jalur pipa minyak East-West. Selat Hormuz tetap tertutup, dengan upaya diplomasi belum menunjukkan hasil signifikan. Kondisi ini mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia, dengan West Texas Intermediate (WTI) naik 1,24% menjadi US$102,65 per barel dan Brent melonjak 1,18% ke US$106,93.

Tekanan eksternal juga datang dari prospek kebijakan moneter Amerika Serikat. Pasar memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin dalam rapat FOMC 15–16 September, dengan probabilitas mencapai 92,4%. Meski kenaikan tersebut sudah diantisipasi, fokus pasar bergeser ke sinyal kebijakan mendatang dari Ketua The Fed Kevin Warsh. Di sisi lain, data ekonomi China—termasuk penjualan ritel dan tingkat pengangguran Agustus—dipantau sebagai indikator kekuatan konsumsi domestik dan efektivitas stimulus pemerintah.

Di dalam negeri, Bank Indonesia (BI) akan merilis data Statistik Utang Luar Negeri periode Juli 2026. Posisi utang luar negeri Indonesia pada akhir kuartal II-2026 mencapai US$453,4 miliar, tumbuh 4,4% secara tahunan dengan rasio terhadap PDB sebesar 30,6%. Data ini akan menjadi acuan bagi investor dalam menilai kesehatan struktur utang dan ketersediaan valuta asing. Sementara itu, nilai transaksi awal perdagangan mencapai Rp365,1 miliar, melibatkan 586,6 juta saham dalam 49.740 kali transaksi.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya