Selasa, 15 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Penutupan Pipa Minyak Saudi Picu Kekhawatiran Global

Serangan drone ke pipa minyak Arab Saudi memicu kekhawatiran pasar global, dengan potensi penurunan pasokan hingga 4% dan lonjakan harga minyak mentah.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 15 September 2026, 11.35 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 3x dibuka
Penutupan Pipa Minyak Saudi Picu Kekhawatiran Global📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pipa Timur-Barat, jalur krusial distribusi minyak Saudi, terpaksa dihentikan operasionalnya setelah diserang drone dari wilayah Irak. Otoritas setempat mengonfirmasi adanya korban luka dan kerusakan infrastruktur, namun belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab. Presiden AS Donald Trump langsung menyalahkan kelompok proksi Iran di Irak, meski Kementerian Luar Negeri Iran membantah tudingan tersebut secara tegas.

Kondisi ini menimbulkan ancaman serius terhadap stabilitas pasokan minyak global. Pipa yang menghubungkan wilayah timur ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah mampu menyalurkan hingga 6 juta barel per hari sebelum serangan, mendekati kapasitas maksimal 7 juta barel. Menurut analisis Capital Economics, penutupan permanen atau berkepanjangan dapat mengurangi pasokan minyak dunia hingga 4%, memperparah ketegangan yang sudah ada akibat konflik regional.

Dampak langsung terasa di pasar komoditas. Harga minyak mentah berjangka Brent melonjak lebih dari 3% menjadi US$108 per barel, sementara WTI mencapai US$103 per barel. Lonjakan ini diperparah oleh penguasaan pemberontak Houthi atas kota Mocha dan pulau Perim di Selat Bab al-Mandeb, yang sebelumnya menjadi rute alternatif saat Selat Hormuz terblokade. Kombinasi dua ancaman ini menutup hampir semua jalur ekspor minyak Saudi, memicu kekhawatiran akan krisis pasokan.

Para pakar menyoroti risiko terhadap pasar produk olahan. Richard Bronze dari Energy Aspects menekankan bahwa pipa tersebut tidak hanya menyalurkan minyak mentah, tetapi juga memasok kilang di pesisir barat Saudi yang memproduksi solar dan bahan bakar lain. Dengan gangguan di kilang Rusia akibat serangan Ukraina, pasokan produk olahan kian terancam. Andy Lipow dari Lipow Oil Associates memperkirakan harga solar di AS dapat melonjak di atas US$6,5 per galon jika kondisi berlangsung lama.

Stok minyak di pelabuhan Yanbu kini menjadi penentu. Analis Kpler menyebut tersisa sekitar 15 juta barel, yang hanya cukup untuk empat hari jika ditarik secara rutin. Janiv Shah dari Rystad Energy memperkirakan masa simpan bisa bertahan hingga tujuh hari. Meski ada harapan perbaikan sebagian aliran selama pemulihan, para ahli memperingatkan bahwa pemadaman berkepanjangan akan memicu krisis ekonomi global yang lebih dalam.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya