Selasa, 15 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Indonesia Kuatkan Ketahanan Energi Hadapi Gejolak Global

Indonesia menempati posisi kedua dunia dalam perlindungan terhadap krisis energi global, berkat strategi diversifikasi dan kebijakan intervensi yang efektif.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 15 September 2026, 07.36 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Indonesia Kuatkan Ketahanan Energi Hadapi Gejolak Global📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indonesia kini menjadi salah satu negara dengan ketahanan energi paling tangguh di dunia, menurut laporan terbaru tentang tekanan energi global hingga 2026. Dalam peringkat perlindungan total, Indonesia berada di posisi kedua, hanya kalah dari Afrika Selatan, menunjukkan efektivitas kebijakan pemerintah dalam mengantisipasi fluktuasi harga minyak dan gas dunia. Kekuatan ini dibangun dari sejumlah mekanisme strategis yang telah diterapkan secara berkelanjutan.

Salah satu pilar utamanya adalah dominasi sumber energi domestik dalam struktur energi primer. Batu bara menyumbang 40,37%, diikuti minyak bumi (28,82%), gas alam (16,17%), dan energi baru terbarukan (14,65%). Ketergantungan terhadap impor energi telah dikurangi secara signifikan, terutama melalui program diversifikasi pasokan minyak mentah oleh Pertamina ke berbagai wilayah, termasuk Amerika Serikat, mengurangi ketergantungan pada Timur Tengah.

Pemerintah juga mempertahankan harga BBM subsidi, termasuk Pertalite dan solar, tanpa kenaikan meski harga minyak global melonjak. APBN berperan sebagai penyerap gejolak, sehingga dampak kenaikan harga tidak langsung dirasakan masyarakat. Selain itu, kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) batu bara dan subsidi listrik menjadi instrumen intervensi penting dalam menjaga stabilitas harga energi dalam negeri.

Kerja sama strategis dengan Rusia turut memperkuat posisi Indonesia, dengan komitmen pasokan 150 juta barel minyak mentah dengan harga khusus. Komitmen ini muncul dari kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Moskwa, yang menghasilkan kerja sama energi jangka panjang. Di sisi lain, program B40 dan target implementasi B50 di seluruh SPBU hingga September 2026 menjadi langkah konkret dalam memperbesar peran biodiesel dari minyak sawit domestik, mengurangi ketergantungan impor solar.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya