Jumat, 11 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Indonesia Harus Kuasai Teknologi Logam Tanah Jarang untuk Jadi Negara Maju

Penguasaan teknologi pengolahan logam tanah jarang kini jadi tolok ukur kekuatan negara, bukan lagi dominasi sumber daya fosil seperti minyak dan batu bara.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 11 September 2026, 11.35 WITA·👁 3 orang membaca· 3 hari ini · 8x dibuka
Indonesia Harus Kuasai Teknologi Logam Tanah Jarang untuk Jadi Negara Maju📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Perubahan paradigma global dalam menentukan kekuatan ekonomi nasional telah menggeser fokus dari komoditas fosil ke sumber daya strategis seperti logam tanah jarang (LTJ). Menurut Deputi Bidang Riset dan Pengembangan Teknologi Badan Industri Mineral, transformasi ini muncul seiring percepatan transisi energi dan berkembangnya teknologi ramah lingkungan di berbagai sektor industri. Kini, negara yang unggul bukan hanya yang memiliki cadangan melimpah, tetapi yang mampu menguasai seluruh rantai nilai dari ekstraksi hingga produksi akhir.

Kebutuhan akan logam tanah jarang meningkat drastis, terutama untuk kendaraan listrik dan pembangkit listrik tenaga angin. Data International Energy Agency mencatat, kebutuhan mineral untuk mobil listrik naik enam kali lipat, sementara untuk turbin angin darat melonjak hingga sembilan kali lipat dibandingkan sistem berbasis gas. Unsur seperti neodymium, praseodymium, dysprosium, terbium, dan yttrium menjadi kunci utama dalam pembuatan magnet permanen yang mendukung efisiensi teknologi tersebut.

Indonesia memiliki potensi besar dalam mineral LTJ, tersebar di lebih dari 250 PLTU dan limbah elektronik yang belum dimanfaatkan secara optimal. Namun, tanpa kemampuan pengolahan mandiri, negara berisiko kehilangan nilai tambah tinggi karena ekspor bahan mentah yang kemudian diimpor kembali sebagai produk jadi. Dalam skenario ini, kerugian negara bisa mencapai triliunan rupiah akibat kehilangan nilai rantai industri.

Untuk mencegah hal tersebut, pemerintah melalui Badan Industri Mineral berkomitmen mempercepat riset dan pengembangan teknologi pengolahan mineral strategis. Tujuannya bukan sekadar menarik investor, tetapi membangun kapasitas lokal dalam menguasai teknologi hilir secara mandiri. Hilirisasi sejati, menurut pihak terkait, adalah ketika bangsa mampu menguasai seluruh proses produksi dari hulu hingga hilir, tanpa ketergantungan pada teknologi asing.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya