Sabtu, 26 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Inemuri: Tidur di Kantor sebagai Simbol Kerja Keras di Jepang

Di Jepang, tidur siang di tempat kerja—disebut inemuri—dipahami sebagai bentuk kehadiran aktif, bukan tanda malas, melainkan refleksi dedikasi dan kelelahan akibat kerja keras.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 26 September 2026, 12.01 WITA·👁 3 orang membaca· 3 hari ini · 5x dibuka
Inemuri: Tidur di Kantor sebagai Simbol Kerja Keras di Jepang📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Di tengah budaya kerja yang menekankan produktivitas tinggi, Jepang memiliki praktik unik yang dikenal sebagai inemuri—kebiasaan tidur singkat saat jam kerja, bahkan di ruang rapat atau kantor. Berbeda dengan persepsi umum di banyak negara, tidur dalam konteks ini tidak dianggap sebagai kelalaian, melainkan bagian dari etos kerja yang menghargai kehadiran fisik dan mental meski tubuh sedang beristirahat. Orang yang melakukan inemuri tetap dianggap hadir secara sosial, siap bangun dan berkontribusi kapan pun dibutuhkan.

Praktik ini didasarkan pada pemahaman bahwa kelelahan bukan tanda kegagalan, melainkan bukti seseorang telah bekerja keras. Peneliti budaya Jepang dari University of Cambridge, Dr Brigitte Steger, menjelaskan bahwa inemuri bukan sekadar tidur, melainkan bentuk komunikasi sosial yang menunjukkan keterlibatan penuh dalam lingkungan kerja. Tidur di tempat umum—baik di perjalanan, ruang belajar, atau kafe—dapat menjadi bentuk pengakuan atas kondisi kelelahan yang wajar, tanpa harus menunjukkan tanda-tanda keengganan bekerja.

Namun, penerimaan terhadap inemuri tidak merata. Status sosial dan posisi dalam hierarki kerja memengaruhi seberapa bebas seseorang bisa mempraktikkannya. Karyawan senior atau yang memiliki jabatan tinggi lebih sering diberi ruang untuk beristirahat, sementara pekerja muda atau baru sering diharapkan tetap aktif tanpa istirahat. Ini mencerminkan tekanan budaya yang mengharuskan seseorang terlihat lelah agar dianggap bekerja keras, yang pada akhirnya menunjukkan ketegangan antara kebutuhan tubuh dan ekspektasi produktivitas.

Di balik kesan uniknya, inemuri mengungkapkan kompleksitas nilai kerja di masyarakat Jepang. Praktik ini bukan pembenaran untuk kerja ekstrem, melainkan mekanisme sosial untuk menyeimbangkan kebutuhan istirahat dengan tuntutan produktivitas. Studi ilmiah juga menunjukkan bahwa tidur siang dalam durasi singkat memberikan manfaat bagi kewaspadaan, memori, dan konsentrasi, sehingga secara kognitif justru mendukung kinerja kerja. Inemuri, dalam konteks ini, bukan malas, melainkan bentuk adaptasi budaya terhadap realitas kerja yang intens.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya