Jahe Pimpin Produksi Tanaman Obat Nasional
Pada 2025, jahe menjadi tanaman obat terbanyak diproduksi di Indonesia dengan volume mencapai 168,97 juta kilogram, diikuti kapulaga dan kunyit.
Redaksi iNarasikita·Kamis, 15 Oktober 2026, 12.02 WITA·👁 3 orang membaca· 0 hari ini · 33x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Produksi tanaman obat di Indonesia menunjukkan dominasi pada beberapa jenis komoditas, dengan jahe menduduki posisi teratas pada tahun 2025. Berdasarkan data resmi dari Badan Pusat Statistik, produksi jahe mencapai 168,97 juta kilogram, menunjukkan ketergantungan tinggi masyarakat terhadap rempah alami untuk menjaga kesehatan. Khasiatnya yang dikenal dalam mengurangi peradangan disebabkan oleh senyawa gingerol yang bersifat anti-inflamasi.
Di bawah jahe, kapulaga menjadi komoditas kedua terbesar dengan produksi 153,8 juta kilogram. Rempah ini dikenal kaya akan antioksidan serta mineral penting seperti magnesium dan kalium, yang diyakini membantu menjaga keseimbangan tekanan darah. Sementara itu, kunyit menempati posisi ketiga dengan hasil panen 147,5 juta kilogram, sejalan dengan reputasinya sebagai bahan alami yang mengandung kurkumin—senyawa aktif yang berperan dalam menanggulangi peradangan kronis.
Lengkuas, jeruk nipis, kencur, dan serai menyusul di urutan berikutnya, masing-masing dengan produksi antara 70,9 juta hingga 49,2 juta kilogram. Di bawahnya, tanaman seperti temulawak, lidah buaya, mahkota dewa, dan temuireng menunjukkan produksi yang lebih rendah, berkisar antara 3,37 juta hingga 2,1 juta kilogram. Sambiloto, meski berada di urutan terakhir dengan produksi 317 ribu kilogram, tetap memiliki peran penting dalam pengobatan tradisional.
Pemanfaatan tanaman obat tetap harus dilakukan dengan hati-hati. Meskipun mengandung senyawa bioaktif alami yang bermanfaat, tanaman ini tidak boleh digunakan sebagai pengganti pengobatan medis yang diresepkan dokter. Beberapa jenis tanaman dapat menimbulkan interaksi dengan obat resep, terutama bagi ibu hamil, menyusui, anak-anak, dan penderita gangguan ginjal. Konsultasi dengan tenaga kesehatan tetap menjadi kewajiban sebelum mengonsumsi tanaman obat secara rutin.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Madrasah Harus Jadi Ruang Belajar Inklusif dan Aman Digital
Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI dorong transformasi madrasah menuju lingkungan belajar inklusif, aman secara digital, dan berkeadilan melalui kolaborasi semua pihak.
24 Oktober 2026
Sulut Juara Umum Kejurnas Pacuan Kuda 2026
Kontingen Sulawesi Utara keluar sebagai juara umum Kejurnas Pacuan Kuda Pordasi ke-60 Seri 2 tahun 2026, mengamankan Piala Presiden dalam perhelatan nasional.
24 Oktober 2026

7 Kebiasaan Sederhana untuk Hidup Lebih Bahagia
Studi menunjukkan bahwa kebahagiaan dapat dibangun melalui gaya hidup sehat, interaksi sosial, dan tujuan jangka panjang.
24 Oktober 2026

Pupuk Indonesia Dorong Ketahanan Pangan Lewat Irigasi Berkelanjutan
Pupuk Indonesia bersama Rabu Biru Foundation resmikan sistem irigasi di lima daerah, termasuk Gunungkidul, untuk tingkatkan produktivitas pertanian di lahan tadah hujan.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

D-8 Dorong Perdamaian Melalui Diplomasi dan Kolaborasi Ekonomi
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.26 WITA

PLTS Terapung di Waduk Tembesi Capai 74 Persen Progres
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.25 WITA

OJK Sultra Dorong Inklusi Keuangan Lewat BIK 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.25 WITA

Gubernur Kalteng Tanam Pohon di Lokasi Karhutla Tumbang Nusa
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.24 WITA

Menteri Tinjau Langsung BSPS di Jakarta Barat
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.24 WITA

Makan Sebelum dan Sesudah Olahraga, Kunci Optimalisasi Performa Tubuh
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.20 WITA

Monako Ungguli Dunia sebagai Tempat Tinggal Terbaik 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.11 WITA

Honda Bikers Day 2026 Tancapkan Semangat Kebangkitan di Ambarawa
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.10 WITA

