Sabtu, 10 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Jakarta Terancam Gempa Megathrust dan Tsunami Rendah

Jakarta berpotensi terdampak gempa megathrust dari Selat Sunda dengan tsunami maksimal setinggi 0,5 meter, berdasarkan analisis pakar BMKG.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 22.12 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Jakarta Terancam Gempa Megathrust dan Tsunami Rendah📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Wilayah ibu kota diprediksi menghadapi risiko gempa besar akibat letak geografisnya yang berdekatan dengan zona megathrust di Selat Sunda. Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG menegaskan bahwa jika terjadi gempa dengan magnitudo maksimum 8,9 di daerah tersebut, dampaknya bisa menjangkau Jakarta. Meski demikian, ketinggian gelombang tsunami yang diperkirakan mencapai Jakarta tidak akan melebihi setengah meter, jauh lebih rendah dibanding wilayah Jawa Barat atau Banten yang berada lebih dekat ke pusat gempa.

Guncangan dari gempa megathrust diperkirakan mencapai intensitas 6 hingga 7 skala MMI di Jakarta, yang berpotensi menimbulkan kerusakan signifikan mengingat kepadatan penduduk dan infrastruktur yang tinggi. Faktor ini memperbesar risiko kerusakan bangunan, pergeseran tanah, hingga kebakaran akibat kerusakan instalasi listrik dan gas. Kondisi tersebut menyoroti pentingnya kesiapan mitigasi bencana di kawasan perkotaan yang padat.

Selain ancaman dari megathrust, Jakarta juga berada dalam zona dekat sesar aktif seperti Sesar Cimandiri di Bogor. Gempa yang berasal dari sesar ini dapat menyebabkan getaran lokal yang berdampak pada struktur bangunan di wilayah perkotaan, terutama di area dengan fondasi lemah atau bangunan tua. Meski dampaknya lebih terbatas dibanding gempa megathrust, risiko ini tetap perlu diperhatikan dalam perencanaan kota.

BMKG telah melengkapi sistem peringatan dini tsunami yang mampu memberikan informasi cepat kepada masyarakat jika terjadi bencana. Sistem ini dirancang untuk meminimalkan korban jiwa dan mempercepat respons evakuasi. Namun, pakar menekankan bahwa kesiapan masyarakat dan pemerintah daerah dalam menghadapi potensi bencana tetap menjadi kunci utama dalam mengurangi kerentanan di wilayah berisiko tinggi seperti Jakarta.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya