Minggu, 13 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Kemah Budaya Baubau Perkuat Karakter Muda Melalui Tradisi

Kegiatan Kemah Budaya dan Apel Api Unggun di Baubau menjadi wahana strategis membangun mentalitas positif dan kecintaan terhadap budaya lokal di kalangan generasi muda.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 13 September 2026, 22.21 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 4x dibuka

Kendari, ıNarasikita - Kegiatan Kemah Budaya dan Apel Api Unggun yang digelar di Baubau menjadi momentum penting dalam membangun karakter dan semangat kebangsaan di kalangan pemuda. Melalui aktivitas yang menggabungkan unsur tradisi, seni, dan kebersamaan, para peserta diajak memahami nilai-nilai luhur yang terkandung dalam budaya lokal Sulawesi Tenggara. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang rekreasi, tetapi juga sarana pendidikan nonformal yang efektif membentuk mentalitas positif.

Para peserta, yang berasal dari berbagai sekolah dan komunitas pemuda, terlibat dalam berbagai aktivitas seperti pentas seni tradisional, cerita rakyat, serta pembakaran api unggun sebagai simbol persatuan. Kegiatan ini dirancang untuk mengajarkan pentingnya keberagaman, gotong royong, dan rasa memiliki terhadap budaya asli daerah. Dengan lingkungan yang mendukung, peserta mampu menumbuhkan rasa percaya diri, kreativitas, dan kepekaan sosial.

Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini menunjukkan keberhasilan dalam menyatukan generasi muda melalui pengalaman langsung di lapangan. Kegiatan ini juga menjadi bentuk respons terhadap tantangan modern yang cenderung menggerus nilai-nilai budaya lokal. Dengan pendekatan yang menyenangkan dan interaktif, peserta lebih mudah menyerap pesan-pesan moral dan sejarah melalui praktik langsung.

Tujuan utama dari kegiatan ini adalah menciptakan generasi muda yang memiliki fondasi karakter kuat, cinta terhadap budaya, serta kesadaran akan pentingnya menjaga kearifan lokal. Melalui pengalaman kolektif di alam terbuka, peserta diajak tumbuh secara emosional, sosial, dan spiritual. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa pendidikan karakter tidak harus selalu berlangsung di ruang kelas.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya