Minggu, 4 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Keringnya Sungai dan Danau, Fenomena yang Dijadikan Tren Visual

Penyusutan air di berbagai wilayah Kalimantan dan Kalimantan Timur menghasilkan lanskap eksotis yang viral di media sosial, namun di balik keindahannya tersembunyi krisis air dan peringatan serius atas kerusakan ekosistem.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 4 Oktober 2026, 17.32 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Keringnya Sungai dan Danau, Fenomena yang Dijadikan Tren Visual📷 Sindonews

Kendari, ıNarasikita - Di tengah musim kemarau 2026, sejumlah wilayah di Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur menunjukkan transformasi dramatis pada ekosistem air. Sungai Kapuas di Sekadau, danau bekas galian tambang di Desa Biku Sarana, serta Danau Semayang di Kutai Kartanegara kini mengalami penurunan permukaan air yang ekstrem. Permukaan tanah yang mengering membentuk hamparan pasir berwarna oranye kecokelatan, retak-retak, dan bahkan membentuk lanskap hijau di tengah danau yang kini tak lagi tergenang. Keadaan ini justru menarik perhatian publik, bukan sebagai alarm lingkungan, melainkan sebagai latar belakang foto yang menarik secara visual.

Banyak warga berdatangan ke lokasi tersebut untuk berwisata dadakan, memotret, dan mengunggah konten ke media sosial. Tempat yang sebelumnya hanya berfungsi sebagai sumber air bagi ekosistem dan kehidupan sehari-hari kini menjadi spot Instagramable. Bahkan danau di Manis Mata, Ketapang, yang sebelumnya penuh air, kini berubah menjadi padang rumput luas akibat kekeringan. Kegiatan ini berlangsung tanpa tanda-tanda kepedulian terhadap kondisi lingkungan yang mengkhawatirkan.

Namun di balik keindahan visual yang diunggah, tersembunyi realitas serius: penurunan kualitas air, ancaman kekeringan massal, dan kerentanan ekosistem. Krisis air bersih yang terjadi bukan sekadar fenomena musiman, melainkan hasil dari perubahan iklim, eksploitasi sumber daya alam, dan ketidakberdayaan sistem pengelolaan air. Ketika fenomena alam yang seharusnya memicu kekhawatiran justru menjadi daya tarik wisata, maka terjadi pergeseran makna yang berbahaya.

Dalam konteks komunikasi visual, hal ini mencerminkan proses estetisasi bencana—di mana ancaman lingkungan dikemas ulang menjadi estetika yang menarik. Kecenderungan ini menunjukkan bagaimana media sosial telah membentuk cara masyarakat membaca realitas: dari kacamata keindahan, bukan dari perspektif keberlanjutan. Ketika yang dinilai adalah kemudahan foto atau popularitas konten, maka urgensi krisis iklim justru terkikis.

Pesan utama dari fenomena ini adalah pentingnya literasi visual yang kritis. Masyarakat perlu dibekali kemampuan untuk melihat di balik tampilan indah dan memahami konteks di balik gambar. Kekeringan bukan sekadar latar belakang foto, melainkan sinyal bahwa sistem alam sedang mengalami tekanan besar. Respons yang seharusnya adalah aksi, bukan sekadar pemujaan terhadap visual yang menarik.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya