KRL Belum Cukup, Pemerintah Kaji Skema Solusi
Kekurangan 25 trainset KRL menghadirkan tantangan baru, di tengah keterbatasan produksi dalam negeri dan pembatasan impor yang ketat.
Redaksi iNarasikita·Minggu, 4 Oktober 2026, 17.32 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
📷 SindonewsKendari, ıNarasikita - Ketersediaan armada kereta rel listrik (KRL) di Tanah Air masih belum memadai untuk menunjang pertumbuhan mobilitas penumpang. Menurut data terbaru, kebutuhan KRL mencapai sekitar 105 trainset, sementara jumlah yang tersedia baru sekitar 80 unit, sehingga terjadi defisit sebanyak 25 trainset. Kondisi ini menuntut langkah strategis dari pemerintah guna menyeimbangkan kebutuhan operasional dengan keterbatasan regulasi dan kapasitas produksi dalam negeri.
Menteri Perhubungan menegaskan bahwa tidak ada solusi tunggal yang dapat diterapkan secara instan. Ia menyampaikan bahwa kebijakan impor KRL bekas kini terkendala aturan yang ketat, sementara produksi dalam negeri melalui PT INKA dan mitra lainnya belum mampu memenuhi target secara penuh. “Ini bukan soal pilih antara impor atau dalam negeri, tapi bagaimana menciptakan keseimbangan yang berkelanjutan,” ujarnya dalam pertemuan di Bandung.
Untuk menyelesaikan persoalan ini, pemerintah akan menggandeng sejumlah kementerian dan institusi terkait, termasuk Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, PT Kereta Api Indonesia (KAI), serta Danantara. Koordinasi lintas sektor ini bertujuan merancang skema pemenuhan KRL yang realistis, berkelanjutan, dan sesuai dengan kebijakan nasional.
Fokus utama adalah evaluasi menyeluruh terhadap kapasitas produksi dalam negeri, termasuk ketersediaan bahan baku, tenaga ahli, dan jaringan pasokan. Di sisi lain, opsi impor tetap dipertimbangkan secara selektif, dengan pertimbangan aturan yang berlaku dan kelayakan teknis serta keamanan operasional.
Tujuan akhirnya adalah menjamin ketersediaan armada KRL yang memadai tanpa mengorbankan standar keselamatan, efisiensi, dan keberlanjutan sistem transportasi massal. Solusi yang dihasilkan harus mampu menjawab kebutuhan saat ini sekaligus memperkuat fondasi industri dalam negeri di masa depan.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Prabowo Lantik Saleh Mustafa Jadi Wamentan, Isi Posisi Kosong Sejak Sudaryono Pindah
Presiden Prabowo Subianto melantik Letjen TNI Muhammad Saleh Mustafa sebagai Wakil Menteri Pertanian, mengisi jabatan kosong pasca-penunjukan mantan wamentan ke Badan Gizi Nasional.
4 Oktober 2026

Saleh Mustafa Dilantik Jadi Wamentan dalam Reshuffle Kabinet
Letjen TNI Muhammad Saleh Mustafa resmi menjabat wakil menteri pertanian dalam reshuffle kabinet, menggantikan Sudaryono yang dipindahkan ke BGN.
4 Oktober 2026

Irwan Meilano Jabat Wamen KKP, Dari Akademisi ITB ke Kabinet Prabowo
Irwan Meilano dilantik sebagai Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan dalam reshuffle kabinet, menggantikan posisi sebelumnya dengan latar belakang akademik kuat dari ITB.
4 Oktober 2026

Gubernur DKI Usulkan 4 Ranperda Penguatan BUMD dan Dana Cadangan
Empat rancangan peraturan daerah diserahkan Gubernur DKI untuk penguatan BUMD dan pembentukan dana cadangan senilai Rp5,6 triliun guna mendukung pembangunan infrastruktur dan layanan publik jangka panjang.
4 Oktober 2026
Berita Lainnya

Prabowo Lantik Dua Wamenkeu Baru, Perkuat Kabinet Ekonomi
Minggu, 4 Oktober 2026, 17.52 WITA

Aryanto Wibowo Dilantik Jadi Wakil Kepala BPKP
Minggu, 4 Oktober 2026, 17.52 WITA

Pelantikan Dua Wamenkeu Baru Perkuat Kebijakan Fiskal
Minggu, 4 Oktober 2026, 17.52 WITA

Dradjad Wibowo Resmi Jabat Wamenko Perekonomian
Minggu, 4 Oktober 2026, 17.52 WITA

Rupiah Melemah ke Rp17.966 per Dolar AS pada Akhir Perdagangan Kamis
Minggu, 4 Oktober 2026, 17.51 WITA

IHSG Melemah 1,02% ke Level 6.009 di Akhir Pelemahan Awal Oktober
Minggu, 4 Oktober 2026, 17.51 WITA

Prabowo Dorong Hilirisasi Energi Lewat Kemenko Baru
Minggu, 4 Oktober 2026, 17.51 WITA

Digger: Kisah Miliarder Egois Hadapi Krisis Ekologi
Minggu, 4 Oktober 2026, 17.46 WITA

