Sabtu, 26 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Kolombia Putus Hubungan Diplomatik dengan Iran

Kolombia memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran sejak 19 September 2026, menyusul keprihatinan atas keamanan nasional dan pelanggaran hak asasi manusia.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 25 September 2026, 23.05 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 3x dibuka
Kolombia Putus Hubungan Diplomatik dengan Iran📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kolombia secara resmi menghentikan hubungan diplomatik dengan Republik Islam Iran, keputusan yang mulai berlaku pada 19 September 2026. Keputusan ini diumumkan oleh Kementerian Luar Negeri Kolombia pada Kamis (24/9), dengan alasan utama keamanan nasional dan regional yang terancam oleh aktivitas transnasional yang diduga terkait dengan Iran. Pemerintah Bogota menekankan bahwa tindakan tersebut merupakan respons terhadap ancaman yang dianggap semakin nyata terhadap stabilitas di kawasan.

Dalam pernyataannya, Kolombia menyoroti dugaan keterlibatan pemerintah Iran dengan kelompok teroris dan jaringan narkoba yang aktif di wilayah Amerika Selatan. Selain itu, pihak berwenang menyebut adanya serangan terhadap negara-negara netral di Timur Tengah, serta blokade yang dilakukan terhadap Selat Hormuz, sebagai faktor pendorong keputusan diplomasi yang tegas. Semua elemen tersebut dinilai membahayakan kepentingan strategis dan keamanan negara.

Kemlu Kolombia juga menyoroti upaya Iran yang dianggap menghambat Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dalam memverifikasi program nuklir negara tersebut. Penolakan akses dan transparansi ini ditegaskan sebagai pelanggaran terhadap kewajiban internasional yang mengikat. Fakta-fakta tersebut, menurut pemerintah Kolombia, telah merusak kepercayaan terhadap pemerintah Iran secara sistematis.

Keputusan ini diambil dalam masa kepemimpinan Presiden Abelardo de la Espriella yang baru menjabat sejak Agustus 2026. Kebijakan luar negeri Kolombia kini mengalami pergeseran signifikan, termasuk percepatan pemulihan hubungan dengan Israel—berbeda dengan kebijakan pendahulunya yang kritis terhadap Israel dalam konflik Gaza. Perubahan arah diplomasi ini mencerminkan komitmen baru terhadap stabilitas regional dan keamanan bersama.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya