Sabtu, 26 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Relawan Gugur Saat Padamkan Karhutla, Keluarga Minta Pemerintah Bertanggung Jawab

Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah menewaskan relawan berusia 53 tahun yang tumbang usai berjuang memadamkan api selama dua minggu, memicu tuntutan agar pemerintah kembali memperkuat upaya mitigasi kebakaran lahan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 25 September 2026, 23.13 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 3x dibuka
Relawan Gugur Saat Padamkan Karhutla, Keluarga Minta Pemerintah Bertanggung Jawab📷 BBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Akhmad Rizani, seorang relawan berpengalaman dari Palangka Raya, meninggal dunia pada 27 Agustus 2026 setelah mengalami kegagalan pernapasan dan pendarahan otak saat bertugas memadamkan kebakaran lahan di Jalan Rungan. Pria yang menjabat Ketua Tim Serbu Api Kecamatan (TSAK) Jekan Raya itu ditemukan dalam kondisi meringkuk di tepi jalan, mengeluh sakit dada sebelum akhirnya tidak sadarkan diri. Ia sempat dirawat di rumah sakit dan sempat berkomunikasi sebelum kondisinya memburuk hingga harus dirawat intensif di ICU.

Istri korban, Wahidah, mengungkapkan rasa penyesalan mendalam atas keputusan suaminya terjun ke lokasi kebakaran, meski mengakui bahwa ia selalu mendukung perjuangan sang suami. Rizani, yang telah berkecimpung dalam pemadaman karhutla sejak 2012, kembali bergabung pada Agustus 2026 karena kekhawatiran atas meluasnya kebakaran dan kebutuhan tambahan penghasilan untuk keluarga. Ia bertugas dari pagi hingga sore setiap hari, mengoperasikan mesin pompa untuk menangani api di area gambut yang sulit dipadamkan.

Korban jiwa bukan satu-satunya dampak dari kebakaran tahun ini. Petani buah di Banjarbaru, Kasman, mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah akibat kebun seluas empat hektare terbakar pada 17 Agustus. Semua tanaman, mulai dari durian, alpukat, mangga hingga kelapa dan pisang, hangus terbakar dalam waktu singkat. Ia baru mengetahui kebakaran saat anaknya berteriak dari kejauhan, setelah ia sedang memberi makan sapi di lokasi berjarak 50 kilometer. Upaya pemadaman dengan alat seadanya gagal menghentikan kobaran api yang cepat menyebar.

Data Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa sejak awal tahun hingga Agustus 2026, karhutla telah memengaruhi 12,5 juta penduduk di tujuh provinsi, menyebabkan 324 luka berat, 23 luka ringan, serta empat korban jiwa — tiga di antaranya terjadi di Kalimantan Tengah dan satu di Kalimantan Barat. Sementara itu, lembaga Celios memperkirakan kerugian ekonomi dan biaya kesehatan akibat kebakaran mencapai Rp123,1 triliun hingga pertengahan tahun.

Kegagalan pemerintah dalam menangani karhutla, terutama setelah pembubaran Badan Restorasi Gambut dan Mangrove pada akhir 2024, menjadi sorotan kritis dari kalangan pegiat lingkungan. Mereka menilai bahwa keputusan tersebut mengurangi kapasitas mitigasi jangka panjang, sehingga menimbulkan konsekuensi berupa kerugian nyawa dan kerusakan ekosistem yang tak terukur. Keluarga korban dan warga terdampak kini mengharapkan langkah konkret dari pemerintah untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya