Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Krisis Air di Guadalajara Memuncak, Warga Desak Penyelesaian Sistemik

Warga Guadalajara protes akibat air keran berwarna cokelat dan berbau busuk, memicu demonstrasi besar dan tuntutan evaluasi infrastruktur serta penegakan kebijakan lingkungan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 17 Oktober 2026, 12.02 WITA·👁 3 orang membaca· 0 hari ini · 32x dibuka
Krisis Air di Guadalajara Memuncak, Warga Desak Penyelesaian Sistemik📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Krisis air bersih di Guadalajara kian menggurita, memicu gelombang protes massa yang melibatkan ribuan warga. Air yang mengalir dari keran rumah mereka dikabarkan keruh, berwarna cokelat hingga hitam, serta memiliki bau tidak sedap. Kondisi ini telah berlangsung bertahun-tahun, namun kini mencapai puncaknya setelah warga mulai menampung air dari keran menggunakan ember dan wadah lainnya untuk kebutuhan sehari-hari.

Aksi demonstrasi yang berlangsung akhir pekan lalu berujung bentrokan dengan aparat keamanan, saat polisi menggunakan meriam air dan gas air mata untuk membubarkan massa. Sebanyak 39 demonstran ditangkap dan puluhan lainnya mengalami luka-luka. Presiden Claudia Sheinbaum menanggapi insiden tersebut dengan mengecam tindakan represif dan memerintahkan evaluasi mendalam terhadap dua proyek infrastruktur air di wilayah tersebut.

Pemerintah dihadapkan pada bukti ilmiah yang mengkhawatirkan. Lembaga independen IMDEC melakukan pengujian terhadap 184 sampel air dari 90 kawasan pemukiman di Guadalajara. Hasilnya menunjukkan lebih dari 93 persen sampel tidak mengandung sisa klorin, zat penting untuk memastikan air aman dikonsumsi. Di samping itu, ditemukan tingkat tinggi kontaminan seperti timbal, merkuri, nitrat, dan bakteri E. coli, yang mengindikasikan pencemaran serius dari limbah industri dan kotoran manusia.

Warga setempat, termasuk Aleida Morales (54), mengungkapkan kekecewaan mendalam atas kualitas air yang telah buruk selama 15 tahun terakhir. Ia menekankan bahwa kemajuan ekonomi yang diikuti ekspansi industri dan pembangunan infrastruktur justru membawa dampak negatif berupa kerusakan lingkungan. Ia menyesalkan bahwa pembangunan yang menjanjikan lapangan kerja justru berujung pada pencemaran yang mengancam kesehatan dan kehidupan masyarakat.

Pemerintah telah meluncurkan program pemulihan DAS Lerma-Santiago dengan anggaran 20 miliar peso, namun pakar lingkungan seperti Allan Tejeda menegaskan bahwa masalah ini bukan sekadar insiden pencemaran, melainkan akumulasi tekanan sistemik yang dibiarkan bertahun-tahun. Ia menyoroti minimnya investasi berkelanjutan, pembuangan limbah ilegal, serta ketidakmampuan fasilitas pengolahan air menghadapi beban polutan. Koalisi nasional untuk air dan hak asasi menyatakan dukungan penuh terhadap aksi warga, menegaskan bahwa air adalah hak dasar, bukan komoditas bagi kelompok berkecukupan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya