Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Lolorian Ciherang: Tradisi Meluncur dari Bukit Garut yang Bangkitkan Kembali Permainan Anak

Permainan tradisional lolorian di Ciherang, Garut, kini jadi destinasi wisata edukatif yang menarik anak-anak dari gawai ke aktivitas fisik di alam terbuka.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 17 Oktober 2026, 21.10 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 27x dibuka
Lolorian Ciherang: Tradisi Meluncur dari Bukit Garut yang Bangkitkan Kembali Permainan Anak📷 BBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Di kawasan perbukitan Malangbong, Kabupaten Garut, sebuah permainan rakyat bernama lolorian kembali hidup sebagai wahana wisata yang menarik minat keluarga. Dengan rel dari pelepah pohon aren sepanjang 200 meter yang dipasang di lereng menurun, lolorian memungkinkan pemain meluncur dengan papan kayu sebagai sarana pergerakan. Hana, seorang ibu rumah tangga, menjadi salah satu pengunjung rutin yang datang bersama suami dan anak-anaknya setiap akhir pekan. Ia menyebut permainan ini menjadi alternatif menyenangkan dari penggunaan gawai yang selama ini menjadi kebiasaan anak-anak.

Asal-usul lolorian bermula dari peniruan terhadap lori perkebunan dan kereta api kolonial yang dulu melintas di sekitar jembatan Ciherang. Nama "lolorian" sendiri diduga berasal dari kata "lorrie" dalam bahasa Belanda, merujuk pada gerbong kecil yang berjalan di atas rel. Namun, permainan ini baru berkembang pesat di kampung tersebut setelah gelombang pengungsi dari masa pemberontakan DI/TII pada 1950-an tinggal di sana. Sesepuh kampung, Abah Koko, yang kini berusia 76 tahun, menceritakan bahwa ide membuat lolorian muncul dari keinginan menghibur anak-anak saat berpuasa, khususnya saat ngabuburit.

Ketika melihat anak-anak lebih asyik dengan gawai daripada berinteraksi langsung, Abah Koko merasa prihatin. Ia pun memodifikasi permainan dengan menggunakan bahan yang lebih kuat seperti bambu dan kayu, serta memperbaiki struktur rel agar lebih aman. Hasilnya, lolorian Ciherang kini menjadi wahana yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga mampu memberikan manfaat ekonomi bagi warga melalui kunjungan wisatawan dari berbagai daerah, bahkan dari luar negeri.

Data dari BPS dan Save The Children menunjukkan tren penggunaan gawai yang tinggi di kalangan anak-anak, dengan 42% anak usia dini sudah mengakses ponsel dan 40% remaja menghabiskan lebih dari tiga jam sehari di depan layar. Hal ini berpotensi menimbulkan masalah kesehatan mental, seperti gangguan ketergantungan internet, menurut dokter spesialis kejiwaan dari Jawa Barat. Sebaliknya, permainan tradisional seperti lolorian dinilai mampu melatih kemampuan berpikir kritis, regulasi emosi, dan interaksi sosial secara langsung.

Pemerintah dan pakar budaya menekankan pentingnya menyediakan alternatif aktivitas yang menarik bagi anak-anak, bukan hanya melarang penggunaan gawai. Menurut Zaini Alif, permainan rakyat dan teknologi digital tidak harus saling bertentangan. Permainan tradisional membentuk keterampilan fisik dan sosial, sementara permainan digital membantu pemahaman terhadap teknologi. Lolorian Ciherang menjadi bukti nyata bahwa budaya lokal, jika dilestarikan dan dimodernisasi dengan bijak, bisa menjadi solusi atas tantangan zaman.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya