Sabtu, 3 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Mantan Menteri Agama Jualan Beras di Glodok, Keluarga Tak Tahu

Mantan Menteri Agama RI Saifuddin Zuhri memilih berdagang beras di Pasar Glodok setelah pensiun, menyembunyikan profesi tersebut dari keluarga hingga terbongkar secara tak sengaja.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 3 Oktober 2026, 21.07 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Mantan Menteri Agama Jualan Beras di Glodok, Keluarga Tak Tahu📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Setelah menjabat sebagai Menteri Agama RI dari tahun 1962 hingga 1967, Saifuddin Zuhri memilih kembali aktif dalam kehidupan politik dengan menjadi anggota DPR-GR dan kemudian anggota DPR hasil Pemilu 1971. Namun, yang lebih dikenang dari perjalanan hidupnya bukan posisi jabatannya, melainkan gaya hidup sederhana yang dipertahankannya hingga akhir hayat.

Pada era 1980-an, ia dikenal menjalani kehidupan sebagai pedagang beras di Pasar Glodok, Jakarta. Setiap pagi, sekitar pukul 09.00 WIB, setelah menunaikan salat Dhuha, ia menyetir mobil sendiri untuk mengangkut karung beras menuju lapak dagangannya. Kegiatan ini dilakoni secara rutin tanpa henti, menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari yang penuh dedikasi.

Kisah berdagang ini bahkan dirahasiakan dari keluarganya. Istri dan anak-anaknya hanya tahu bahwa ia selalu pulang membawa uang, tanpa mengetahui sumber penghasilannya. Kebocoran rahasia terjadi saat salah satu putranya secara kebetulan melihat sang ayah sedang melayani pembeli di pasar. Peristiwa itu menjadi momen terbongkarnya kehidupan nyata sang mantan pejabat yang jauh dari kesan mewah.

Prinsip kesederhanaan dan integritas yang dianut Saifuddin Zuhri sudah terbentuk sejak masa menjabat. Ia menolak rumah dinas meskipun diusulkan berkali-kali, memilih tetap tinggal di rumah pribadi yang dicicil sendiri. Setelah lunas, ia menyerahkan rumah tersebut secara cuma-cuma untuk kepentingan sosial NU. Dalam autobiografinya, Berangkat dari Pesantren (1984), ia juga mengungkapkan pengalaman serupa pada masa awal kehidupannya, ketika sempat berdagang pakaian bekas dan barang loak demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Saifuddin Zuhri wafat pada 25 Februari 1986 setelah berjuang melawan sakit. Meski telah puluhan tahun berlalu sejak pensiun, nilai-nilai yang diperjuangkannya—kesederhanaan, kemandirian, dan penolakan terhadap korupsi—tetap menjadi contoh nyata bagi generasi pejabat dan masyarakat Indonesia.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya