Masker Sekali Pakai Tak Boleh Dicuci, Ini Penjelasan Dokter Paru
Dokter paru menegaskan masker bedah dan N95 tidak boleh dicuci karena dapat merusak struktur penyaringan, sementara masker kain perlu dicuci dengan hati-hati agar tetap efektif.
Redaksi iNarasikita·Rabu, 9 September 2026, 15.47 WITA·👁 6 orang membaca· 0 hari ini · 20x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Penggunaan masker kembali menjadi perhatian menyusul peningkatan paparan abu vulkanik di wilayah Sulawesi Tenggara, yang memicu kekhawatiran masyarakat terhadap ketersediaan dan efektivitas perlindungan. Di tengah kecenderungan mencuci masker demi menghemat penggunaan, seorang dokter paru menekankan pentingnya memahami batasan setiap jenis masker. Menurutnya, masker sekali pakai seperti bedah dan respirator N95 dirancang untuk digunakan dalam periode tertentu, bukan untuk dipakai kembali setelah dicuci.
Kapasitas penyaringan masker bedah dan N95 sangat bergantung pada struktur material yang rapat dan konsisten. Proses pencucian, baik dengan air maupun deterjen, berpotensi merusak lapisan penyaring, sehingga menyebabkan pori-pori menjadi lebih longgar. Akibatnya, kemampuan masker dalam menangkal partikel halus seperti abu vulkanik justru menurun drastis. Dokter tersebut menegaskan bahwa penggunaan masker dalam waktu 6 hingga 8 jam sudah cukup lama dan harus segera diganti.
Untuk masker kain, meski memungkinkan dicuci, efektivitasnya setelah pemakaian berulang tetap menjadi pertanyaan. Bahkan sebelum dicuci, masker kain yang digunakan dalam waktu lama akan menjadi lembap dan terkontaminasi kotoran dari pernapasan. Ketika dicuci, struktur kain bisa berubah, menyebabkan filtrasi menjadi lebih rendah. Dengan demikian, meski bisa digunakan kembali, masker kain tidak direkomendasikan sebagai perlindungan utama saat paparan partikel berbahaya tinggi.
Sebagai alternatif, dokter menyarankan penggunaan respirator dengan standar filtrasi minimal 95 persen, seperti N95, KN95, atau FFP2. Jika jenis tersebut tidak tersedia, masker bedah tetap lebih baik daripada tidak memakai masker sama sekali. Kunci utama adalah konsistensi penggunaan dan penggantian sesuai waktu, bukan mencoba memperpanjang masa pakai dengan cara yang tidak tepat.
Penting bagi masyarakat untuk memilih masker berdasarkan kebutuhan dan kondisi lingkungan, bukan hanya harga atau ketersediaan. Mengabaikan petunjuk penggunaan dapat mengurangi perlindungan yang diharapkan. Dalam situasi seperti paparan abu vulkanik, pilihan yang tepat tetap menjadi prioritas utama demi menjaga kesehatan pernapasan secara optimal.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

OJK Dorong Digitalisasi Pembiayaan UMKM dan Pertanian Sultra
OJK mempercepat transformasi digital pembiayaan sektor UMKM dan pertanian di Sultra untuk tingkatkan kontribusi ekonomi daerah terhadap nasional.
25 Oktober 2026

Aliansi Masyarakat Amberi Desak RDP Terbuka Soal PLTD Lambuya
Masyarakat Ring 1 Desa Amberi menolak kehadiran PLTD Lambuya dan mendesak DPRD Konawe gelar RDP terbuka untuk klarifikasi perizinan, dampak lingkungan, serta penggunaan dana CSR.
25 Oktober 2026

OJK Sultra Dorong Inklusi Keuangan Lewat BIK 2026
Gelaran Bulan Inklusi Keuangan 2026 di Kendari berhasil tingkatkan inklusi keuangan Sultra menjadi 85,52 persen dari 83 persen tahun sebelumnya.
24 Oktober 2026

Ibu 55 Tahun Ajak Anak Cari Kerja di Job Fair Jakarta
Seorang ibu dari Sulawesi Tenggara berusia 55 tahun mendampingi dua anaknya yang lulusan sarjana mencari pekerjaan melalui job fair di Jakarta, mengungkap kesulitan pasar kerja modern yang ketat meski kualifikasi tinggi.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

MHTG Tuntaskan Topping Off, Siapkan Pusat Kanker Terpadu
Minggu, 25 Oktober 2026, 15.49 WITA

Diskon Hingga Jutaan Rupiah untuk Mesin Cuci dan Kulkas di Transmart
Minggu, 25 Oktober 2026, 15.49 WITA

Gandrung Sewu 2026 Tampilkan Tradisi Bercahaya di Malam Hari
Minggu, 25 Oktober 2026, 15.43 WITA

Moto3 Australia 2026 Batal, Veda Ega Kecewa, Danish Dapat Keuntungan
Minggu, 25 Oktober 2026, 15.32 WITA

Klasemen MotoGP 2026 Stabil Usai Australia Batal Digelar
Minggu, 25 Oktober 2026, 15.32 WITA

Topan Champi Ancam Taiwan dan Jepang, Ratusan Penerbangan Dibatalkan
Minggu, 25 Oktober 2026, 15.32 WITA

Demonstrasi Massal Prancis Tertahan, Ratusan Ribu Jatuhkan Kritik pada Kebijakan Pemerintah
Minggu, 25 Oktober 2026, 15.31 WITA

Singapura Pertahankan Komitmen Kontrak Meski Ekspor Gas Dipangkas
Minggu, 25 Oktober 2026, 15.30 WITA

