Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Masker Sekali Pakai Tak Boleh Dicuci, Ini Penjelasan Dokter Paru

Dokter paru menegaskan masker bedah dan N95 tidak boleh dicuci karena dapat merusak struktur penyaringan, sementara masker kain perlu dicuci dengan hati-hati agar tetap efektif.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 9 September 2026, 15.47 WITA·👁 6 orang membaca· 0 hari ini · 20x dibuka
Masker Sekali Pakai Tak Boleh Dicuci, Ini Penjelasan Dokter Paru📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Penggunaan masker kembali menjadi perhatian menyusul peningkatan paparan abu vulkanik di wilayah Sulawesi Tenggara, yang memicu kekhawatiran masyarakat terhadap ketersediaan dan efektivitas perlindungan. Di tengah kecenderungan mencuci masker demi menghemat penggunaan, seorang dokter paru menekankan pentingnya memahami batasan setiap jenis masker. Menurutnya, masker sekali pakai seperti bedah dan respirator N95 dirancang untuk digunakan dalam periode tertentu, bukan untuk dipakai kembali setelah dicuci.

Kapasitas penyaringan masker bedah dan N95 sangat bergantung pada struktur material yang rapat dan konsisten. Proses pencucian, baik dengan air maupun deterjen, berpotensi merusak lapisan penyaring, sehingga menyebabkan pori-pori menjadi lebih longgar. Akibatnya, kemampuan masker dalam menangkal partikel halus seperti abu vulkanik justru menurun drastis. Dokter tersebut menegaskan bahwa penggunaan masker dalam waktu 6 hingga 8 jam sudah cukup lama dan harus segera diganti.

Untuk masker kain, meski memungkinkan dicuci, efektivitasnya setelah pemakaian berulang tetap menjadi pertanyaan. Bahkan sebelum dicuci, masker kain yang digunakan dalam waktu lama akan menjadi lembap dan terkontaminasi kotoran dari pernapasan. Ketika dicuci, struktur kain bisa berubah, menyebabkan filtrasi menjadi lebih rendah. Dengan demikian, meski bisa digunakan kembali, masker kain tidak direkomendasikan sebagai perlindungan utama saat paparan partikel berbahaya tinggi.

Sebagai alternatif, dokter menyarankan penggunaan respirator dengan standar filtrasi minimal 95 persen, seperti N95, KN95, atau FFP2. Jika jenis tersebut tidak tersedia, masker bedah tetap lebih baik daripada tidak memakai masker sama sekali. Kunci utama adalah konsistensi penggunaan dan penggantian sesuai waktu, bukan mencoba memperpanjang masa pakai dengan cara yang tidak tepat.

Penting bagi masyarakat untuk memilih masker berdasarkan kebutuhan dan kondisi lingkungan, bukan hanya harga atau ketersediaan. Mengabaikan petunjuk penggunaan dapat mengurangi perlindungan yang diharapkan. Dalam situasi seperti paparan abu vulkanik, pilihan yang tepat tetap menjadi prioritas utama demi menjaga kesehatan pernapasan secara optimal.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya