Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Menbud Pantau Pemugaran Yasti dan Konservasi Mahastupa Borobudur

Menteri Kebudayaan meninjau langsung pemugaran yasti dan konservasi Mahastupa Candi Borobudur untuk memastikan penanganan berbasis ilmu dan keaslian material.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Kamis, 15 Oktober 2026, 09.16 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 24x dibuka
Menbud Pantau Pemugaran Yasti dan Konservasi Mahastupa Borobudur📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Menteri Kebudayaan Republik Indonesia melakukan kunjungan lapangan ke Candi Borobudur untuk memantau proses pemugaran struktur yasti serta konservasi Mahastupa. Kunjungan ini dilakukan sebagai bagian dari komitmen pemerintah dalam menjaga kestabilan arsitektur dan keaslian material candi sebagai warisan budaya dunia. Peninjauan fokus pada penguatan struktur bagian puncak dan penanganan gejala pelapukan serta penggaraman yang mulai menunjukkan dampak pada batu candi.

Dalam kesempatan tersebut, Menbud menekankan bahwa pemugaran tidak hanya bertujuan memperbaiki kerusakan, tetapi juga memastikan bahwa intervensi dilakukan dengan pendekatan ilmiah dan berkelanjutan. Ia menyoroti perubahan iklim yang memengaruhi kondisi lingkungan sekitar candi, sehingga menuntut penanganan yang lebih akurat terhadap material andesit yang telah berusia lebih dari seribu tahun. “Batu andesit tetap rentan terhadap perubahan iklim dan paparan cuaca. Kita harus memastikan bahwa setiap langkah konservasi tidak merusak keaslian dan ketahanan struktural candi,” tegasnya.

Pemugaran yasti dilakukan karena adanya pergeseran susunan batu pada bagian puncak stupa induk, yang berpotensi mengganggu stabilitas keseluruhan. Sementara itu, konservasi Mahastupa ditujukan untuk menangani penggaraman yang muncul sebagai lapisan putih di permukaan batu, serta pelapukan dan rekahan yang mengancam integritas material. Semua tindakan dilakukan setelah serangkaian analisis teknis yang dilakukan Agustus 2026, yang mengidentifikasi kondisi rongga, keretakan, dan degradasi pada bagian harmika dan stupa induk.

Tim pelaksana terdiri dari para ahli multidisiplin, termasuk arkeolog, konservator, insinyur sipil, dan pakar metalurgi, yang bekerja secara bertahap melalui dokumentasi, pemeriksaan material, dan evaluasi kondisi sebelum intervensi dilakukan. Proses ini mengacu pada prinsip konservasi yang mengutamakan pemeliharaan asli dan meminimalkan penggunaan material pengganti. Pemugaran kali ini juga menjadi kesempatan untuk meninjau kembali metode sebelumnya, mengingat sejarah pemugaran besar sebelumnya pada 1907–1911 dan 1973–1983.

Menutup peninjauan, Menbud mengajak masyarakat untuk turut menjaga kelestarian candi dengan tidak menyentuh relief, tidak meletakkan benda atau zat kimia, serta mematuhi aturan kunjungan. Ia menegaskan bahwa pelestarian warisan budaya bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga kewajiban bersama seluruh lapisan masyarakat. “Setiap tindakan kecil dari pengunjung bisa berdampak besar terhadap keberlangsungan Borobudur sebagai simbol budaya Indonesia,” ujarnya.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya