Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Menghadapi Rekan Kerja Egois: Strategi Profesional Tanpa Stres

Mengatasi rekan kerja yang cenderung menguasai percakapan, merendahkan, atau memanipulasi bisa dilakukan dengan strategi komunikasi tepat dan batasan jelas tanpa menyerang pribadi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 19 Oktober 2026, 21.07 WITA·👁 4 orang membaca· 0 hari ini · 96x dibuka
Menghadapi Rekan Kerja Egois: Strategi Profesional Tanpa Stres📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Dalam lingkungan kerja, menghadapi rekan yang selalu menuntut perhatian, meremehkan kontribusi orang lain, atau mengambil kredit atas hasil tim merupakan tantangan yang sering mengganggu produktivitas dan kesejahteraan mental. Meskipun perilaku semacam itu tidak selalu menunjukkan gangguan kepribadian narcissistic (NPD), sifat-sifat seperti kebutuhan akan pengakuan berlebihan dan minim empati dapat menciptakan iklim kerja yang tidak sehat. Yang penting dipahami, pengelolaan situasi tidak bergantung pada diagnosis, melainkan pada respons yang konstruktif dan terukur.

Pendekatan pertama yang efektif adalah menetapkan batasan jelas terkait waktu kerja, tanggung jawab, dan interaksi profesional. Misalnya, jika ada rekan yang menghubungi di luar jam kerja, respons yang tegas namun sopan bisa menegaskan batas tanpa menimbulkan konflik. Fokus pada perilaku spesifik, bukan pada karakter pribadi, juga membantu menjaga suasana tetap profesional. Ketika seorang rekan menginterupsi ide dalam rapat, ungkapan seperti “Saya merasa sulit menyampaikan gagasan jika disela, mohon waktu untuk menjelaskan” bisa menggugah kesadaran tanpa menyerang.

Dalam situasi provokatif, metode gray rock—memberikan respons singkat, netral, dan minim emosi—dapat menjadi alat efektif untuk mengurangi keterlibatan dalam konflik yang tidak produktif. Dengan tidak memberikan informasi pribadi atau reaksi emosional, individu dapat mempertahankan kendali tanpa terlibat dalam drama. Selain itu, menghindari perdebatan yang tidak menghasilkan solusi juga krusial. Jika suasananya mulai memanas, tenangkan nada bicara dan ajukan jeda untuk menyelesaikan masalah secara objektif.

Dokumentasi kejadian yang mengganggu—termasuk waktu, konteks, pernyataan, dan dampaknya—menjadi alat penting jika harus melibatkan atasan atau tim HR. Catatan yang sistematis dan berbasis fakta akan memperkuat argumen tanpa terkesan emosional. Terakhir, menjaga kesehatan mental harus menjadi prioritas. Jika tekanan berkelanjutan memengaruhi kinerja dan rasa percaya diri, mencari dukungan psikologis atau mempertimbangkan perubahan lingkungan kerja adalah langkah yang wajar, bukan kegagalan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya