Netanyahu dan Graham Rancang Strategi Diskreditasi ICC Sebelum Pemilu AS
Perdana Menteri Israel Netanyahu dan Senator AS Lindsey Graham diduga merancang upaya bersama untuk melemahkan Mahkamah Pidana Internasional menjelang pemilu AS 2024.
Redaksi iNarasikita·Senin, 31 Agustus 2026, 20.58 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
📷 TempoKendari, ıNarasikita - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Senator Amerika Serikat Lindsey Graham diketahui melakukan koordinasi rahasia untuk membentuk tekanan terhadap Mahkamah Pidana Internasional (ICC) menjelang gelaran Pemilu AS tahun 2024. Laporan yang mengungkapkan kerja sama tersebut berdasarkan rekaman yang diperoleh oleh sutradara Inggris Alex Holder, menunjukkan Netanyahu meminta dukungan bipartisan dari kalangan politisi Amerika Serikat, termasuk anggota Partai Demokrat, guna menolak perintah penahanan yang dikeluarkan oleh ICC.
Dalam percakapan yang direkam, Netanyahu mengusulkan agar isu dugaan pelecehan seksual terhadap Jaksa ICC Karim Khan dimanfaatkan sebagai alat untuk menciptakan ketidakpercayaan terhadap lembaga hukum internasional. Ia menekankan pentingnya memanfaatkan isu tersebut untuk “menodai” reputasi ICC secara luas, terutama di tengah dinamika politik Amerika Serikat yang sensitif terhadap isu kebijakan luar negeri.
Graham, yang kemudian meninggal dunia, dilaporkan berhasil menggaet dukungan dari Senator Richard Blumenthal dan Ben Cardin dari Partai Demokrat. Ia melaporkan kepada Netanyahu bahwa kedua senator tersebut telah setuju mendukung langkah tersebut. Dalam percakapan, Graham menyatakan, “Kita dapatkan mereka berdua,” menunjukkan keberhasilan strategi politik yang dipadukan antara kepentingan kebijakan luar negeri Israel dan dinamika partai di AS.
Sebagai imbalan, Graham menyampaikan komitmen Israel terhadap normalisasi hubungan dengan Arab Saudi sebagai bentuk insentif politik. Surat bipartisan yang dikeluarkan pada 1 November 2024 mengutip dugaan pelecehan terhadap Karim Khan dan menyatakan keberatan terhadap prosedur ICC yang dianggap tidak memenuhi standar hukum, termasuk kegagalan dalam melakukan pertemuan dengan pejabat Israel sebelum mengeluarkan surat perintah penangkapan.
Pada bulan yang sama, ICC mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant atas dugaan kejahatan perang dalam operasi militer di Jalur Gaza. Peristiwa tersebut dikaitkan dengan kematian lebih dari 73.000 warga sipil, menurut laporan resmi yang dikutip dalam dokumen hukum ICC.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait
Penyu Laut Langka Bertelur di Pantai California, Pertama Kali Diamati Secara Alami
Seekor penyu laut langka berhasil bertelur di Pantai Huntington, California Selatan, menjadi catatan pertama spesies ini bertelur secara alami di sepanjang Pantai Barat Amerika Serikat.
26 September 2026

Demonstran Pro-Palestina Blokir Jalan di New York Usai Pidato Netanyahu
Ratusan warga menolak pidato Netanyahu di PBB dengan aksi blokade dan spanduk di Manhattan, menekankan kekejaman perang Gaza dan menyerukan penangkapan perdana menteri Israel.
26 September 2026

Influencer Kritis Tewas Dengan Luka Parah di Kano
Seorang aktivis media sosial asal Kano, Nigeria, ditemukan tewas dengan luka serius di kepala dan tenggorokan, menimbulkan kekhawatiran atas ancaman terhadap kebebasan berpendapat menjelang pemilu 2027.
26 September 2026

Negara Muslim Tetap Hadir Saat Netanyahu Berpidato di PBB
Sejumlah negara mayoritas Muslim memilih tetap berada di ruang sidang PBB saat Netanyahu menyampaikan pidato, meski banyak negara lain walkout akibat kritik terhadap kebijakan Israel.
26 September 2026
Berita Lainnya

300 Anak Yatim Doakan Timnas, Kemenangan 2-0 Terwujud
Sabtu, 26 September 2026, 21.25 WITA

MotoGP 2027 Resmi Rilis, Mandalika Jadi Tuan Rumah untuk Kelima Kalinya
Sabtu, 26 September 2026, 21.25 WITA
Paus Leo Soroti Pentingnya Kebebasan Pers di Tengah Tegangan Media dan Pemerintah
Sabtu, 26 September 2026, 21.24 WITA

Pezeshkian: Pertemuan dengan Trump Tak Realistis Tanpa Hentikan Ancaman
Sabtu, 26 September 2026, 21.23 WITA

Taman Delhi Dibatasi Malam Hari Pasca Pemerkosaan Remaja
Sabtu, 26 September 2026, 21.23 WITA
Bangkok Dilanda Banjir Besar, 50 Distrik Ditetapkan Darurat
Sabtu, 26 September 2026, 21.23 WITA

KPK Periksa Saksi Terkait Mekanisme Proyek di Bekasi dan Peran Ipda Yayat
Sabtu, 26 September 2026, 21.23 WITA

APHI Dukung Koreksi Aturan Bakar Lahan untuk Cegah Karhutla
Sabtu, 26 September 2026, 21.23 WITA

