Sabtu, 26 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Pezeshkian: Pertemuan dengan Trump Tak Realistis Tanpa Hentikan Ancaman

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan tidak mungkin berdialog dengan Trump jika AS tetap menerapkan sanksi dan ancaman militer terhadap Teheran.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 26 September 2026, 21.23 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 4x dibuka
Pezeshkian: Pertemuan dengan Trump Tak Realistis Tanpa Hentikan Ancaman📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan bahwa pertemuan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tidak akan mungkin terjadi selama Washington terus mempertahankan kebijakan ancaman dan sanksi terhadap Republik Islam. Dalam pernyataan yang disampaikan dalam wawancara, Pezeshkian menyoroti kegagalan AS dalam memenuhi komitmen yang telah disepakati sebelumnya, termasuk pelanggaran nota kesepahaman yang ditandatangani Juni lalu. Ia menekankan bahwa ketidakpercayaan antara kedua negara telah memburuk akibat kebijakan yang konsisten mengancam dan mengisolasi Iran.

Pezeshkian menyoroti bahwa setiap hari AS memperketat sanksi, mengancam serangan militer, dan melanggar kesepakatan yang telah disepakati. Ia mempertanyakan niat tulus AS jika mereka tetap menjaga sikap agresif. “Bagaimana bisa kami percaya pada negara yang setiap hari menekan kami, mengancam, dan melanggar kesepakatan yang sudah disetujui?” tegasnya. Menurutnya, tanpa penghentian kebijakan tersebut, setiap upaya diplomasi akan sia-sia.

Pertemuan potensial yang dibuka oleh Trump di New York, saat para pejabat Iran hadir dalam Sidang Majelis Umum PBB ke-81, dinilai tidak relevan tanpa perubahan substantif dari pihak AS. Trump sendiri dalam pidatonya di forum internasional menyatakan memiliki keputusan besar: memilih antara menjalin kesepakatan atau menghancurkan Iran. Namun, pernyataan itu tidak diikuti tindakan nyata dari Washington.

Iran baru-baru ini mengajukan proposal baru yang menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai bentuk kompromi. Namun, hingga kini, respons resmi dari Amerika Serikat belum hadir. Keberadaan proposal tersebut menunjukkan upaya diplomasi yang serius, tetapi tanpa respons dari pihak AS, prospek perbaikan hubungan tetap terhambat oleh ketidakseimbangan kepercayaan dan kebijakan yang tidak konsisten.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya