Pezeshkian: Pertemuan dengan Trump Tak Realistis Tanpa Hentikan Ancaman
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan tidak mungkin berdialog dengan Trump jika AS tetap menerapkan sanksi dan ancaman militer terhadap Teheran.
Redaksi iNarasikita·Sabtu, 26 September 2026, 21.23 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 4x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan bahwa pertemuan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tidak akan mungkin terjadi selama Washington terus mempertahankan kebijakan ancaman dan sanksi terhadap Republik Islam. Dalam pernyataan yang disampaikan dalam wawancara, Pezeshkian menyoroti kegagalan AS dalam memenuhi komitmen yang telah disepakati sebelumnya, termasuk pelanggaran nota kesepahaman yang ditandatangani Juni lalu. Ia menekankan bahwa ketidakpercayaan antara kedua negara telah memburuk akibat kebijakan yang konsisten mengancam dan mengisolasi Iran.
Pezeshkian menyoroti bahwa setiap hari AS memperketat sanksi, mengancam serangan militer, dan melanggar kesepakatan yang telah disepakati. Ia mempertanyakan niat tulus AS jika mereka tetap menjaga sikap agresif. “Bagaimana bisa kami percaya pada negara yang setiap hari menekan kami, mengancam, dan melanggar kesepakatan yang sudah disetujui?” tegasnya. Menurutnya, tanpa penghentian kebijakan tersebut, setiap upaya diplomasi akan sia-sia.
Pertemuan potensial yang dibuka oleh Trump di New York, saat para pejabat Iran hadir dalam Sidang Majelis Umum PBB ke-81, dinilai tidak relevan tanpa perubahan substantif dari pihak AS. Trump sendiri dalam pidatonya di forum internasional menyatakan memiliki keputusan besar: memilih antara menjalin kesepakatan atau menghancurkan Iran. Namun, pernyataan itu tidak diikuti tindakan nyata dari Washington.
Iran baru-baru ini mengajukan proposal baru yang menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai bentuk kompromi. Namun, hingga kini, respons resmi dari Amerika Serikat belum hadir. Keberadaan proposal tersebut menunjukkan upaya diplomasi yang serius, tetapi tanpa respons dari pihak AS, prospek perbaikan hubungan tetap terhambat oleh ketidakseimbangan kepercayaan dan kebijakan yang tidak konsisten.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait
Paus Leo Soroti Pentingnya Kebebasan Pers di Tengah Tegangan Media dan Pemerintah
Paus Leo menegaskan peran krusial media dalam demokrasi saat dikonfrontasi soal pembatasan akses jurnalis ke Gedung Putih oleh pemerintahan AS.
26 September 2026

APHI Dukung Koreksi Aturan Bakar Lahan untuk Cegah Karhutla
Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia mendukung langkah Presiden Prabowo untuk merevisi regulasi pembakaran lahan guna memperkuat pencegahan kebakaran hutan dan lahan secara menyeluruh.
26 September 2026

China dan AS Sepakati Delapan Poin Kolaborasi Strategis
Dua pemimpin negara mencapai delapan kesepakatan dalam pertemuan di Washington, termasuk kerja sama ekonomi, keamanan maritim, dan dialog kecerdasan buatan.
26 September 2026

Mahasiswa Diminta Jaga Nilai Kebangsaan di Era Digital
Anggota DPR MPR RI ajak generasi muda kritis menyikapi informasi dan memperkuat persatuan melalui pemahaman empat pilar kebangsaan.
26 September 2026
Berita Lainnya

300 Anak Yatim Doakan Timnas, Kemenangan 2-0 Terwujud
Sabtu, 26 September 2026, 21.25 WITA

MotoGP 2027 Resmi Rilis, Mandalika Jadi Tuan Rumah untuk Kelima Kalinya
Sabtu, 26 September 2026, 21.25 WITA

Taman Delhi Dibatasi Malam Hari Pasca Pemerkosaan Remaja
Sabtu, 26 September 2026, 21.23 WITA
Bangkok Dilanda Banjir Besar, 50 Distrik Ditetapkan Darurat
Sabtu, 26 September 2026, 21.23 WITA

KPK Periksa Saksi Terkait Mekanisme Proyek di Bekasi dan Peran Ipda Yayat
Sabtu, 26 September 2026, 21.23 WITA

Relawan Tegaskan Penolakan Gugatan Ijazah Gibran di MK
Sabtu, 26 September 2026, 21.22 WITA

Indonesia Hadirkan Gizi Klinis dan Teknologi di Kongres Dunia Rusia
Sabtu, 26 September 2026, 21.22 WITA

KKP Diminta Buka Alasannya Segel Udang Ribu Ton
Sabtu, 26 September 2026, 21.22 WITA

