Sabtu, 19 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Noda Ajak Masyarakat Dukung Reformasi Lewat Kampanye Jalanan

Mantan Perdana Menteri Jepang Yoshihiko Noda membagikan selebaran kampanye di Stasiun Minami-Funabashi, menyoroti isu lokal seperti asuransi bencana dan tunjangan anak, menyusul pembubaran Partai Sentris.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 19 September 2026, 17.37 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Noda Ajak Masyarakat Dukung Reformasi Lewat Kampanye Jalanan📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Mantan Perdana Menteri Jepang, Yoshihiko Noda, muncul di tengah keramaian jalanan dengan membawa selebaran kampanye di Stasiun Minami-Funabashi pada Jumat pagi, pukul 07.30 waktu setempat. Aksi tersebut terekam dan viral di media sosial, menunjukkan Noda secara langsung menyebarkan dokumen yang berisi isu-isu sosial penting seperti perlindungan asuransi bencana, bantuan tunjangan anak, serta upaya reformasi sistem pemerintahan prefektur. Slogan utama dalam selebaran itu, “jangan tinggalkan siapa pun”, menjadi penekanan terhadap prinsip inklusivitas yang dianut oleh Aliansi Reformasi Sentris, kelompok yang kini telah dibubarkan.

Pembubaran Partai Sentris diumumkan langsung oleh Ketua partai, Junya Ogawa, dalam konferensi pers setelah kegagalan strategi politik dalam pemilu Februari lalu. Partai yang dibentuk secara mendadak pada Januari sebagai hasil penggabungan antara Komeito dan Partai Demokratik Konstitusional Jepang, gagal menghambat dominasi Partai Demokrat Liberal (LDP) pimpinan Sanae Takaichi. Dalam pemilu tersebut, LDP berhasil memperoleh 316 kursi dari total 465 kursi di Dewan Perwakilan Rakyat, sementara Partai Sentris hanya meraih 49 kursi.

Ogawa menegaskan bahwa pembubaran partai merupakan keputusan setelah seluruh kewajiban keuangan, termasuk pembayaran tertunda, telah diselesaikan. Meski partai resmi bubar, sejumlah anggotanya diprediksi akan tetap berada di parlemen sebagai fraksi independen. Beberapa kemungkinan akan kembali ke partai asalnya, sementara yang lain berencana membentuk aliansi baru untuk melanjutkan perjuangan politik.

Kegagalan ini menambah deretan gejolak dalam politik Jepang yang telah goyah sejak pecahnya koalisi berusia 26 tahun antara LDP dan Komeito pada Oktober tahun lalu, akibat skandal dana politik. Kini, upaya menciptakan oposisi yang solid kembali terhambat, menandai transisi baru dalam dinamika kekuasaan di negara yang sebelumnya dikenal dengan stabilitas politik relatif. Namun, aksi Noda di jalanan menunjukkan bahwa perjuangan ideologi dan perubahan sistemik masih berlangsung, meski dalam bentuk yang lebih kecil dan terdesentralisasi.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya