Jumat, 11 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Pasar Asia Terkoreksi Akibat Lonjakan Minyak dan Inflasi AS

Bursa Asia melemah pada Jumat (11/9/2026), didorong anjloknya Kospi dan Nikkei setelah harga minyak melonjak dan data inflasi AS menunjukkan tekanan yang masih tinggi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 11 September 2026, 22.34 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 3x dibuka
Pasar Asia Terkoreksi Akibat Lonjakan Minyak dan Inflasi AS📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Indeks saham utama di Korea Selatan dan Jepang menjadi penopang penurunan pasar Asia pada perdagangan hari ini, dengan Kospi merosot 2,7% dan Nikkei 225 turun 2,6%. Penurunan ini meluas ke pasar lain seperti S&P/ASX 200 Australia yang melemah 1%, mencerminkan tekanan yang menyeluruh di kawasan. Pemicu utama koreksi berasal dari lonjakan harga minyak mentah di pasar global, khususnya West Texas Intermediate (WTI) yang menembus ambang US$100 per barel, level tertinggi sejak 19 Mei. Kenaikan harga komoditas ini dipicu oleh ketegangan geopolitik yang berlanjut antara AS dan Iran, yang kini memasuki bulan ketujuh.

Lonjakan harga minyak turut memicu kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, dengan surat utang 10 tahun mencapai 4,95%, level tertinggi sejak Oktober 2023. Sinyal ini memperkuat kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi yang berkelanjutan, terutama setelah data indeks harga produsen (PPI) AS untuk Agustus menunjukkan kenaikan 0,4% secara bulanan dan 5,4% secara tahunan. Data tersebut mengindikasikan bahwa tekanan harga masih kuat di tingkat produksi, yang menambah risiko bagi kebijakan moneter Federal Reserve.

Selanjutnya, pasar menantikan rilis data indeks harga konsumen (CPI) AS untuk Agustus, yang diharapkan naik 0,4% bulanan dan 3,4% tahunan, sesuai proyeksi ekonom yang disurvei Dow Jones. Hasil CPI akan menjadi kunci dalam menentukan arah kebijakan suku bunga The Fed pada pertemuan 16 September mendatang. Berdasarkan perhitungan CME Group melalui alat FedWatch, peluang kenaikan suku bunga diperkirakan mencapai 71%.

Christopher Hodge, Chief Economist AS di Natixis CIB Americas, menegaskan bahwa hasil CPI akan menjadi penentu utama apakah The Fed memilih menaikkan suku bunga atau mempertahankannya. Ia menyatakan bahwa jika inflasi lebih tinggi dari ekspektasi, kemungkinan kenaikan suku bunga pada pekan depan akan meningkat. Sebaliknya, jika data sesuai konsensus, ini bisa menjadi sinyal keempat berturut-turut bahwa inflasi mulai melandai, sehingga memperkecil tekanan untuk intervensi moneter.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya