Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Pasir Hidup: Solusi Baru Tahan Air di Lahan Kering

Ilmuwan berhasil mengembangkan pasir yang mampu menahan air hingga 28 kali lebih lama dengan bantuan mikroba, membuka peluang bagi pertanian di daerah gurun.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 19 Oktober 2026, 09.01 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 91x dibuka
Pasir Hidup: Solusi Baru Tahan Air di Lahan Kering📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Para peneliti berhasil menciptakan material tanah berpasir yang mampu menyimpan air secara efisien, membuka terobosan penting bagi pertanian di wilayah kering. Dengan memanfaatkan bakteri dan jamur yang mampu menghasilkan serat alami, mereka mengubah pasir biasa menjadi struktur yang lebih padat dan tahan air. Pendekatan ini dirancang untuk menangani tantangan utama petani di daerah berpasir, di mana air cepat meresap dan tanah cepat kering, sehingga menyulitkan pertumbuhan tanaman.

Pendekatan utama yang diuji melibatkan pertumbuhan bakteri *Komagataeibacter medellinensis* dan jamur *Schizophyllum commune* dalam media pasir. Setelah disterilkan, pasir diberi nutrisi dan dibiarkan tumbuh selama tujuh hari. Hasilnya, bakteri membentuk serat selulosa yang mengikat butiran pasir, membentuk struktur padat yang bisa dipotong dan tetap utuh saat direndam air. Jamur juga mampu mengikat pasir, meski hasilnya lebih rapuh dan rentan rusak saat diambil dari cetakan.

Dalam eksperimen lanjutan, peneliti mengembangkan metode alternatif dengan menumbuhkan lembaran selulosa secara terpisah, lalu menyisipkannya di antara lapisan pasir. Ketika diberi beban 10 kg, kubus pasir yang diperkuat mampu bertahan tanpa runtuh, berbeda dengan pasir biasa yang langsung hancur. Pengujian aliran air menunjukkan bahwa pasir dengan lapisan penguat mengurangi kecepatan resap air hingga 28 kali lipat, sementara pasir yang diberi serat bakteri mengurangi sekitar enam kali lipat.

Temuan ini diuji menggunakan pasir dari Al Ain, Uni Emirat Arab, dan pasir laboratorium standar, dengan hasil yang konsisten. Meski belum diterapkan secara luas di lapangan, hasil uji coba laboratorium menunjukkan potensi besar untuk meningkatkan efisiensi irigasi di daerah gurun dan tanah berpasir. Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal *Carbohydrate Polymers*, menegaskan bahwa pendekatan biologis berbasis mikroba dapat menjadi solusi berkelanjutan dalam pengelolaan tanah kering.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya