Pasir Hidup: Solusi Baru Tahan Air di Lahan Kering
Ilmuwan berhasil mengembangkan pasir yang mampu menahan air hingga 28 kali lebih lama dengan bantuan mikroba, membuka peluang bagi pertanian di daerah gurun.
Redaksi iNarasikita·Senin, 19 Oktober 2026, 09.01 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 91x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Para peneliti berhasil menciptakan material tanah berpasir yang mampu menyimpan air secara efisien, membuka terobosan penting bagi pertanian di wilayah kering. Dengan memanfaatkan bakteri dan jamur yang mampu menghasilkan serat alami, mereka mengubah pasir biasa menjadi struktur yang lebih padat dan tahan air. Pendekatan ini dirancang untuk menangani tantangan utama petani di daerah berpasir, di mana air cepat meresap dan tanah cepat kering, sehingga menyulitkan pertumbuhan tanaman.
Pendekatan utama yang diuji melibatkan pertumbuhan bakteri *Komagataeibacter medellinensis* dan jamur *Schizophyllum commune* dalam media pasir. Setelah disterilkan, pasir diberi nutrisi dan dibiarkan tumbuh selama tujuh hari. Hasilnya, bakteri membentuk serat selulosa yang mengikat butiran pasir, membentuk struktur padat yang bisa dipotong dan tetap utuh saat direndam air. Jamur juga mampu mengikat pasir, meski hasilnya lebih rapuh dan rentan rusak saat diambil dari cetakan.
Dalam eksperimen lanjutan, peneliti mengembangkan metode alternatif dengan menumbuhkan lembaran selulosa secara terpisah, lalu menyisipkannya di antara lapisan pasir. Ketika diberi beban 10 kg, kubus pasir yang diperkuat mampu bertahan tanpa runtuh, berbeda dengan pasir biasa yang langsung hancur. Pengujian aliran air menunjukkan bahwa pasir dengan lapisan penguat mengurangi kecepatan resap air hingga 28 kali lipat, sementara pasir yang diberi serat bakteri mengurangi sekitar enam kali lipat.
Temuan ini diuji menggunakan pasir dari Al Ain, Uni Emirat Arab, dan pasir laboratorium standar, dengan hasil yang konsisten. Meski belum diterapkan secara luas di lapangan, hasil uji coba laboratorium menunjukkan potensi besar untuk meningkatkan efisiensi irigasi di daerah gurun dan tanah berpasir. Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal *Carbohydrate Polymers*, menegaskan bahwa pendekatan biologis berbasis mikroba dapat menjadi solusi berkelanjutan dalam pengelolaan tanah kering.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Gaya Kepemimpinan Luthfi Dapat Pujian Akademisi
Akademisi menilai kepemimpinan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi humanis, kolaboratif, dan berbasis solusi, dengan keterlibatan perguruan tinggi dalam perumusan kebijakan daerah.
24 Oktober 2026

Ancol Tantang Rekor MURI Lewat Estafet Renang 24 Jam dan Bendera Merah Putih 360 Meter
Atlantis Water Adventure Ancol gelar dua aksi pemecahan rekor MURI dalam perayaan Hari Renang Sedunia, melibatkan estafet renang nonstop dan pembentangan bendera Merah Putih sepanjang 360 meter.
24 Oktober 2026

Bedah Rumah di Kampung Ambon Dorong Pemulihan Secara Komprehensif
Program bedah rumah di Kampung Ambon menjadi strategi integratif untuk menekan peredaran narkoba melalui peningkatan kesejahteraan masyarakat.
24 Oktober 2026

Dua Wakil Putri Indonesia Gagal ke Final Indonesia Masters 2026
Mutiara Ayu Puspitasari dan Ni Kadek Dhinda Amartya Pratiwi tersingkir dari semifinal Indonesia Masters 2026 setelah kalah dari lawan dari Hong Kong dan China.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

Harga Emas Antam Turun Rp10 Ribu per Gram Hari Ini
Sabtu, 24 Oktober 2026, 21.26 WITA

Investor Desak MSCI Jelaskan Alasan Penurunan Status Pasar Indonesia
Sabtu, 24 Oktober 2026, 21.26 WITA

Pemerintah dan Pertamina Percepat Siap Operasional Kilang RDMP Balikpapan
Sabtu, 24 Oktober 2026, 21.25 WITA

Suahasil Lantik Pejabat Baru, Sekjen Kemenkeu Diganti
Sabtu, 24 Oktober 2026, 21.25 WITA

Bahlil Dorong E50 untuk Kurangi Impor BBM
Sabtu, 24 Oktober 2026, 21.25 WITA

Pelantikan Pejabat Pimpinan Tinggi Madya di Kemenkeu
Sabtu, 24 Oktober 2026, 21.25 WITA

Ibu 55 Tahun Ajak Anak Cari Kerja di Job Fair Jakarta
Sabtu, 24 Oktober 2026, 21.25 WITA

Pemerintah Perkuat Rantai Pasok Pangan Hadapi Tantangan Iklim
Sabtu, 24 Oktober 2026, 21.24 WITA

