Senin, 14 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Pemerintah Perkuat Vokasi, Sasar 220 Ribu Peserta Tahunan

Program pelatihan vokasi nasional ditargetkan menjangkau 220 ribu peserta per tahun untuk mengurangi kesenjangan keterampilan dan mendukung transformasi ekonomi digital.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 1 September 2026, 20.51 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Pemerintah Perkuat Vokasi, Sasar 220 Ribu Peserta Tahunan📷 ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Pemerintah menetapkan target pencapaian pelatihan vokasi sebanyak 220.000 peserta setiap tahun sebagai bagian dari strategi peningkatan kualitas tenaga kerja. Target ini disampaikan dalam peluncuran Pelatihan Vokasi Nasional Batch 4 Tahun 2026 di Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Serang, Banten, yang dihadiri oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. Program ini dirancang untuk menghasilkan tenaga kerja yang tidak hanya memiliki kompetensi teknis, tetapi juga mampu beradaptasi dengan dinamika industri modern.

Dalam konteks perkembangan Revolusi Industri 4.0, digitalisasi, dan penerapan kecerdasan buatan, kebutuhan akan tenaga kerja berkualitas semakin mendesak. Data menunjukkan bahwa sektor digital membutuhkan tambahan 406.000 tenaga kerja setiap tahun pada periode 2025–2026, yang harus dipenuhi melalui program reskilling dan retraining. Untuk mendukung hal tersebut, realisasi investasi nasional mencapai Rp1.010,6 triliun pada periode tersebut, tumbuh 7,2 persen dari tahun sebelumnya, menjadi pendorong utama penciptaan lapangan kerja formal.

Peningkatan ekonomi terlihat dari jumlah pekerja formal yang naik dari 59 juta menjadi 60 juta orang dalam periode Februari hingga Maret. Dampak positif ini turut berkontribusi pada penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) nasional dari 4,68 persen menjadi 4,65 persen. Namun demikian, pemerintah tetap menyadari adanya ketidaksesuaian antara kompetensi pencari kerja dan kebutuhan industri, yang menjadi tantangan utama dalam optimalisasi penyerapan tenaga kerja.

Untuk mengatasi ketimpangan tersebut, pemerintah memperluas skala pelatihan dengan memperkuat sinergi antara fasilitas pemerintah dan dunia usaha. Fokus pelatihan tidak hanya pada keterampilan teknis, tetapi juga pengembangan soft skill dan nilai-nilai etika kerja. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menekankan pentingnya keseimbangan antara kemampuan teknis dan perilaku profesional bagi para peserta agar mampu bersaing di pasar kerja global.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya