Pemindahan Gaji PNS ke Bank Negara Mengancam Stabilitas BPD
Rencana pemindahan pembayaran gaji PNS dan PPPK dari BPD ke bank BUMN berpotensi melemahkan likuiditas, menekan kredit daerah, dan mengancam lapangan kerja di bank daerah.
Redaksi iNarasikita·Rabu, 16 September 2026, 11.30 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Pemerintah dikabarkan sedang mempertimbangkan pemindahan sistem pembayaran gaji bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) dari Bank Pembangunan Daerah (BPD) ke Himbara, kelompok bank negara milik BUMN. Keputusan ini muncul setelah serikat pekerja bank daerah menyampaikan kekhawatiran terhadap dampak berantai yang akan ditimbulkan, terutama terhadap kinerja operasional dan keberlangsungan bisnis BPD di seluruh Indonesia.
Dalam rapat dengar pendapat umum dengan DPR RI, perwakilan serikat pekerja menegaskan bahwa pemindahan payroll akan mengganggu tiga pilar utama BPD: keberadaan tenaga kerja, aktivitas bisnis, dan kontribusi terhadap perekonomian daerah. Salah satu risiko utama adalah penurunan drastis dana murah, khususnya dari rekening tabungan dan giro (CASA), yang menjadi sumber pendanaan utama bagi penyaluran kredit ke sektor produktif seperti UMKM dan pelaku usaha lokal.
Ahli makroekonomi dari INDEF, M Rizal Taufikurahman, menilai tidak ada urgensi ekonomi kuat yang mendasari kebijakan tersebut. Ia memperingatkan bahwa mengalihkan dana gaji PNS dari BPD ke bank nasional berisiko mengurangi intermediasi keuangan di tingkat daerah. Penurunan CASA akan meningkatkan biaya dana bagi BPD, sehingga menghambat penyaluran kredit dan berpotensi memicu kenaikan suku bunga kredit bagi masyarakat lokal.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, juga menyoroti pentingnya identifikasi masalah dasar sebelum melakukan perubahan besar seperti ini. Jika tidak ada bukti kegagalan sistem, biaya transaksi tinggi, atau kelemahan teknologi di BPD, maka pemindahan seragam justru dapat menimbulkan biaya ekonomi yang lebih besar dibanding manfaat administratif yang dijanjikan. Ia memperkirakan dampak jangka menengah termasuk tekanan efisiensi yang bisa berujung pada pemangkasan kantor dan tenaga kerja di BPD.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

7 Tipe Teman yang Mengancam Stabilitas Keuanganmu
Tidak semua pertemanan mendukung kesehatan finansial; beberapa tipe teman justru memicu pemborosan tanpa disadari.
16 September 2026

Komitmen Investasi Indonesia-China Tembus Rp88,1 Triliun
Kerja sama Two Countries Twin Parks melahirkan komitmen bisnis baru senilai Rp51 triliun, menjadikan total nilai kerja sama mencapai Rp88,1 triliun hingga September 2026.
16 September 2026

Asing Fokus Beli Saham Tambang di Tengah Aksi Jual Bersih
Investor asing mencatat net sell Rp349,3 miliar, namun tetap memperbesar posisi di emiten tambang, terutama ANTN, BUMI, dan AMMN.
16 September 2026

BBRI Tuntaskan Buyback, Serap Dana Rp90,37 Miliar
Bank Rakyat Indonesia menyelesaikan program pembelian kembali saham dengan serapan dana Rp90,37 miliar dalam periode Juni hingga September 2026.
16 September 2026
Berita Lainnya

Maret Paling Banyak Libur Merah di 2027
Rabu, 16 September 2026, 11.46 WITA

9 Makanan yang Tak Boleh Disimpan di Kulkas
Rabu, 16 September 2026, 11.44 WITA

Makanan Sehat yang Dukung Fokus Anak Secara Alami
Rabu, 16 September 2026, 11.44 WITA

<Kunci Hotel dan Amplop Jangan Disimpan Bersamaan>
Rabu, 16 September 2026, 11.44 WITA

Syarat Ketat Angkut Mobil Listrik Naik Kapal
Rabu, 16 September 2026, 11.42 WITA

Yamaha Tunda Peluncuran Motor Listrik di RI
Rabu, 16 September 2026, 11.42 WITA

iPhone 18 Pro dan Duo Resmi Sertifikasi TKDN, Siap Masuk Indonesia
Rabu, 16 September 2026, 11.35 WITA

Perusahaan AI Dorong Pembentukan Badan Standar Independen
Rabu, 16 September 2026, 11.35 WITA


