Rabu, 16 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Penjualan BEV Melonjak, Toyota Soroti Peran Hybrid

Pertumbuhan pesat mobil listrik murni di Agustus 2026 berjalan beriringan dengan penurunan penjualan mobil bensin, namun Toyota menegaskan kendaraan bensin masih dominan dan hybrid menjadi solusi transisi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 15 September 2026, 15.32 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 8x dibuka
Penjualan BEV Melonjak, Toyota Soroti Peran Hybrid📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Penjualan mobil listrik berbasis baterai (BEV) di Indonesia mencatat kenaikan signifikan pada Agustus 2026, dengan distribusi dari pabrik ke dealer mencapai 17.413 unit—naik 24,63% dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara itu, penjualan kendaraan berbahan bakar bensin secara keseluruhan turun 4,34% menjadi 54.683 unit, menunjukkan pergeseran tren konsumsi yang mulai terasa di pasar otomotif nasional.

Marketing Director PT Toyota-Astra Motor, Bansar Maduma, menyebut perubahan ini sebagai tantangan strategis bagi industri, tetapi juga peluang untuk menyesuaikan penawaran produk. Ia menekankan bahwa kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) masih menjadi pilihan utama masyarakat, dengan kontribusi terhadap penjualan Toyota mencapai sekitar 79%.

Untuk menjawab kebutuhan konsumen yang ingin efisiensi tanpa beralih langsung ke mobil listrik murni, Toyota memperkuat lini hybrid. Penjualan kendaraan hybrid Toyota telah tumbuh lebih dari 80% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan tiga model unggulan: Kijang Innova Zenix Hybrid, Veloz Hybrid EV, dan Yaris Cross Hybrid. Veloz Hybrid EV sendiri mencatat penjualan hampir 2.000 unit per bulan.

Meski BEV tumbuh pesat, kontribusi elektrifikasi terhadap total penjualan Toyota masih sekitar 21%. Di sisi lain, data Gaikindo menunjukkan penurunan penjualan hybrid sebesar 4,21% dan pertumbuhan tipis pada plug-in hybrid (PHEV) sebesar 1,01%, mengindikasikan dinamika pasar yang belum merata.

Toyota menilai hybrid bukan sekadar transisi, melainkan solusi praktis dalam kondisi infrastruktur listrik dan akses pengisian energi yang belum merata. Dengan teknologi ini, konsumen bisa mengurangi konsumsi bahan bakar tanpa harus meninggalkan kebiasaan berkendara konvensional.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya