Sabtu, 3 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Percepatan 6 Program Prioritas di KKP dengan Kepemimpinan Baru

Menteri Kelautan dan Perikanan menekankan percepatan pelaksanaan enam program strategis pasca pelantikan wakil menteri baru, dengan fokus pada efektivitas dan manfaat langsung bagi masyarakat.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 3 Oktober 2026, 23.28 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Percepatan 6 Program Prioritas di KKP dengan Kepemimpinan Baru📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menegaskan komitmen mempercepat implementasi enam program prioritas nasional (PKPN) seiring dengan dilantiknya Irwan Meilano sebagai wakil menteri. Ia menekankan bahwa setiap program telah dibekali satuan tugas khusus dan akan terus dipantau secara berkala. Tujuan utamanya adalah memastikan hasil kerja tidak hanya berupa infrastruktur fisik, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap kesejahteraan nelayan dan masyarakat pesisir.

Enam program unggulan yang menjadi fokus meliputi Kampung Nelayan Merah Putih, budidaya perikanan tematik, swasembada garam, revitalisasi tambak di Pantura, budidaya udang terintegrasi di Waingapu, serta modernisasi kapal perikanan. Trenggono menekankan pentingnya pendekatan berbasis efisiensi dan kesiapan industri, dengan harapan bahwa pelaksanaan di lapangan tidak hanya memenuhi target fisik, tetapi juga menjawab kebutuhan riil sektor perikanan.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri juga menyoroti peran penting Irwan Meilano yang memiliki latar belakang akademis. Ia menugaskan wakil menteri untuk memperkuat sektor pendidikan dan riset, khususnya melalui transformasi Politeknik KKP menjadi pusat unggulan. Fokus utamanya adalah pengembangan Ocean Institute of Indonesia (OII) sebagai Center of Excellence yang mampu menghasilkan lulusan siap kerja sesuai standar industri nasional dan global.

Irwan Meilano menyatakan komitmennya untuk menerapkan tiga prinsip utama dalam kepemimpinan di KKP: integrasi data, pengukuran manfaat sosial, serta pendekatan kolaboratif dalam menyelesaikan tantangan. Ia menegaskan bahwa keberhasilan program bukan diukur dari jumlah bangunan yang dibangun, melainkan dari sejauh mana masyarakat bisa merasakan manfaat langsung. Ia juga menyatakan bahwa hambatan akan dihadapi secara bersama-sama, bukan dihindari.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya