Sabtu, 3 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Inflasi September 2026 Dipicu Cabai, Ayam, dan Kenaikan BBM Non-Subsidi

Lonjakan harga cabai rawit, daging ayam ras, dan BBM non-subsidi menjadi penyebab utama inflasi bulanan sebesar 0,30 persen pada September 2026.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 3 Oktober 2026, 23.27 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Inflasi September 2026 Dipicu Cabai, Ayam, dan Kenaikan BBM Non-Subsidi📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Inflasi pada bulan September 2026 mencatatkan angka 0,30 persen secara bulanan dan 3,28 persen secara tahunan, menunjukkan tekanan harga yang kembali meningkat di sejumlah sektor penting. Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau menjadi pendorong utama, dengan kontribusi inflasi sebesar 0,88 persen dan andil terhadap total inflasi mencapai 0,26 persen.

Di antara komoditas pangan yang menyumbang inflasi, cabai rawit menjadi penyebab utama dengan andil 0,08 persen, disusul cabai merah sebesar 0,06 persen dan daging ayam ras yang turut berkontribusi sebesar 0,05 persen. Selain itu, beras, telur ayam ras, ikan segar, dan kangkung juga turut memberi tekanan harga dengan andil masing-masing antara 0,01 hingga 0,03 persen. Penurunan produksi di daerah sentra seperti Garut, Temanggung, Bandung, Sampang, dan Magelang menjadi faktor utama kenaikan harga cabai.

Kenaikan harga daging ayam ras juga dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan dari program Makan Bergizi Gratis di sejumlah wilayah, ditambah dengan kenaikan harga pakan ternak yang berdampak langsung pada biaya produksi. Sementara itu, sektor energi turut berkontribusi melalui kenaikan harga BBM non-subsidi, terutama Pertamax Turbo yang naik sekitar 7 persen, Dexlite meningkat 20 persen, dan Pertamina Dex naik sekitar 19 persen selama bulan tersebut.

Dengan kondisi ini, pemerintah diharapkan tetap memantau perkembangan harga komoditas strategis dan mempertimbangkan kebijakan stabilisasi harga untuk menjaga daya beli masyarakat. Upaya koordinasi antar kementerian dan lembaga terkait dinilai penting guna mengendalikan tekanan inflasi yang berasal dari sektor pangan dan energi.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya