Sabtu, 3 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Semua Pengambil Keputusan Pro-Growth, Tekankan Keseimbangan Fiskal

Seluruh pemangku kebijakan ekonomi di Indonesia, termasuk jajaran Kemenkeu, berkomitmen pada pendekatan pro-growth dengan tetap menjaga kehati-hatian fiskal.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 3 Oktober 2026, 23.27 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Semua Pengambil Keputusan Pro-Growth, Tekankan Keseimbangan Fiskal📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menegaskan bahwa seluruh lembaga dan pihak yang berperan dalam pengambilan keputusan ekonomi di Tanah Air memiliki kesepahaman bersama: mendorong pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan. Pernyataan ini disampaikan dalam kesempatan gathering media, menanggapi pertanyaan mengenai konsistensi kebijakan fiskal yang mendukung pertumbuhan, sejalan dengan arahan Menteri Keuangan Suahasil Nazara. Menurut Juda, orientasi pro-growth bukan hanya sekadar retorika, melainkan prinsip yang dijalankan secara kolektif di semua lini kebijakan.

Kebijakan pro-growth, menurutnya, tidak hanya berfokus pada pertumbuhan semata, tetapi juga mencakup perlindungan terhadap kelompok rentan dan transformasi struktural ekonomi. Ia memberi contoh bantuan sosial yang menjadi instrumen penting untuk menjaga daya beli masyarakat miskin. Dengan adanya bansos, konsumsi masyarakat tetap terjaga, sehingga mendorong aktivitas ekonomi secara keseluruhan. Dalam konteks ini, kebijakan sosial pun menjadi bagian integral dari strategi pertumbuhan ekonomi.

Namun, Juda menekankan bahwa pertumbuhan tidak boleh diwujudkan dengan mengabaikan prinsip kehati-hatian fiskal. Semua kebijakan harus berada dalam batas-batas yang diatur oleh peraturan perundang-undangan, termasuk defisit anggaran yang tetap berada di bawah 3 persen dan utang pemerintah di bawah 60 persen. Saat ini, posisi utang pemerintah masih berada di bawah 40 persen, menunjukkan konsistensi dalam menjaga kesehatan fiskal.

Menurutnya, kebijakan fiskal memiliki peran sentral dalam memacu ekonomi, tetapi harus seimbang dengan prudence. Jika kondisi fiskal tidak terjaga, maka kepercayaan publik dan investor akan terganggu. “Kalau fiskal jebol, tidak ada yang mau memberi pinjaman, tidak ada yang berani investasi,” tegasnya. Keseimbangan antara pertumbuhan dan kehati-hatian menjadi kunci utama untuk menjaga stabilitas ekonomi jangka panjang.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya