Senin, 28 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Pergeseran Kurikulum di Kampus China Akibat Dominasi AI

Sejumlah universitas di China menghapus jurusan tradisional seperti fotografi dan penerjemahan karena dampak AI, sambil memperluas program di bidang teknologi dan kreativitas hibrida.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 28 September 2026, 12.15 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Pergeseran Kurikulum di Kampus China Akibat Dominasi AI📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Perguruan tinggi di China mulai merestrukturisasi program studi dengan menghapus belasan ribu jurusan yang dianggap tidak relevan di era kecerdasan buatan. Langkah ini merupakan bagian dari upaya strategis pemerintah untuk memperkuat daya saing nasional melalui fokus pada inovasi teknologi, termasuk robotika, chip, dan sistem AI. Beberapa kampus besar, seperti Central Academy of Fine Arts dan University of Shanghai for Science and Technology, telah menghentikan penerimaan mahasiswa baru di bidang desain produk, ilustrasi, dan tata busana, dengan alasan kemampuan AI yang kian menggantikan fungsi pekerjaan kreatif tradisional.

Pemindahan kurikulum ini mencakup pengurangan signifikan pada disiplin ilmu seni, humaniora, dan bahasa, dengan sekitar 30 persen total program studi mengalami revisi atau pembubaran. Di antaranya, jurusan penerjemahan, bahasa Jepang, dan bahasa Jerman mengalami pemotongan, sejalan dengan data pengangguran di sektor tersebut yang mencapai lebih dari 16 persen. Universitas Komunikasi China (CUC) pun mengumumkan penutupan lima program, termasuk sinematografi dan fotografi, karena dianggap tidak lagi layak sebagai disiplin terpisah dalam konteks digitalisasi yang mendalam.

Meski sebagian jurusan dihapus, pihak kampus menegaskan bahwa konsepnya bukan penghapusan total, melainkan integrasi ke bidang baru. Misalnya, fotografi tradisional digabungkan dalam kurikulum film dan media visual, sementara penerjemahan diperkuat dengan pendekatan berbasis AI dan kecerdasan kontekstual. Pejabat CUC, Liao Xiangzhong, menekankan bahwa kreativitas manusia tetap menjadi nilai utama, terutama dalam hal nuansa budaya dan gaya komunikasi yang tidak bisa sepenuhnya direplikasi mesin.

Di sisi lain, muncul peluang baru di sektor kreatif, seperti prompt engineer dan animator AI, yang menunjukkan bahwa teknologi bukan pengganti, melainkan alat kolaboratif. Beberapa kampus telah meluncurkan program baru di bidang embodied intelligence, seni pencitraan cerdas, dan desain kreatif hibrida, yang dirancang untuk menggabungkan kecerdasan manusia dengan otomasi sistem. Perubahan ini menandai transformasi besar dalam ekspektasi pasar kerja, di mana kualifikasi lulusan harus mencakup kemampuan teknis dan kolaborasi dengan sistem otomatis.

Namun, para ahli menilai bahwa perombakan jurusan secara masif hanyalah langkah jangka pendek. Chu Zhahoui, peneliti dari National Institute of Education Sciences, menyarankan agar sistem pendidikan lebih fleksibel, dengan pemberian kebebasan kepada mahasiswa untuk memilih mata kuliah sesuai minat dan kebutuhan karier. Menurutnya, pendekatan berbasis kurikulum tetap tidak efektif jika tidak diimbangi dengan desain pembelajaran yang adaptif dan berkelanjutan. Masa depan pendidikan tinggi, menurutnya, bukan hanya soal mengganti jurusan, melainkan menciptakan sistem yang mampu menyesuaikan diri dengan laju teknologi yang terus berubah.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya