Senin, 28 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Peringatan Hari Bhakti Postel 2026 di Bandung Tegaskan Kebangkitan Kepemerintahan Digital Awal Kemerdekaan

Peringatan Hari Bhakti Postel 2026 digelar di Bandung dengan mengenang peristiwa pengambilalihan PTT oleh AMPTT pada 27 September 1945 sebagai langkah awal negara membangun infrastruktur komunikasi nasional.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Senin, 28 September 2026, 12.17 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Peringatan Hari Bhakti Postel 2026 di Bandung Tegaskan Kebangkitan Kepemerintahan Digital Awal Kemerdekaan📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Peringatan Hari Bhakti Postel 2026 berlangsung di Kantor Pusat PT Pos Indonesia, Bandung, pada hari ini, Minggu (27/9), menandai peristiwa penting dalam sejarah komunikasi nasional. Peristiwa tersebut terjadi tepat satu bulan setelah proklamasi kemerdekaan, ketika kekuasaan Jawatan Post, Telegraph dan Telephone (PTT) belum diserahkan oleh pihak Jepang. Berdasarkan catatan resmi Kementerian Komunikasi dan Digital, tindakan pengambilalihan dilakukan oleh Angkatan Muda Pos Telegrap dan Telepon (AMPTT) sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajahan dan upaya memastikan kontrol negara atas aset strategis.

Pengambilalihan dirancang melalui serangkaian pertemuan awal, termasuk pertemuan kunci pada 3 September 1945 yang dipimpin Soetoko bersama sejumlah tokoh muda seperti Slamet Soemari, Joesoef, Agoes Salman, dan Nawawi Alif. Mereka sepakat untuk merebut kantor pusat PTT paling lambat akhir September 1945. Upaya damai dilakukan pada 23 September, saat Soeharto dan R Dijar menemui pihak Jepang untuk menuntut penyerahan kendali secara sukarela. Namun, negosiasi gagal, dan Jepang hanya mengizinkan pengibaran bendera merah putih di area belakang gedung, bukan di area utama.

Pada 26 September, AMPTT memperkuat posisi dengan menugaskan Soewarno sebagai komandan pasukan dan Nawawi Alif untuk memimpin persiapan strategis. Soetoko kemudian menunjuk dirinya sebagai ketua AMPTT dengan tiga wakil, termasuk Hasan Zein dan Abdoel Djabar, untuk memastikan koordinasi terpadu. Malam harinya, seluruh anggota AMPTT disiagakan untuk mengumpulkan senjata, kendaraan, dan peralatan pendukung. Rakyat dari berbagai lapisan, termasuk tokoh masyarakat dan organisasi perjuangan, juga diajak berpartisipasi.

Pada 27 September, setelah upaya damai kembali buntu, AMPTT melakukan aksi penyerangan terhadap kantor PTT. Soewarno dan pasukannya masuk ke dalam gedung, menguasai area tanpa perlawanan berarti. Jepang menyerahkan senjata secara sukarela. Soetoko kemudian menghadirkan Soeharto dan R Dijar di hadapan massa, membacakan pengangkatan mereka sebagai Kepala dan Wakil Kepala PTT seluruh Indonesia. Bendera Jepang diturunkan dan digantikan dengan bendera merah putih. Esok harinya, mantan pimpinan Jepang dilarang memasuki kantor dan ditempatkan di rumah mereka yang telah diberi stiker “Milik Republik Indonesia”.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya