IHSG Berpotensi Melemah di Awal Pekan
Indeks Harga Saham Gabungan diproyeksikan turun pada perdagangan Senin, terdorong tekanan jual dan koreksi mingguan di atas 3 persen.
Redaksi iNarasikita·Senin, 28 September 2026, 12.08 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan mengalami tekanan penurunan pada awal pekan ini, menyusul penutupan pekan sebelumnya di level 6.241. Penurunan sebesar 0,9 persen atau 56,7 poin terjadi setelah indeks gagal mempertahankan posisi di atas 6.300, menandai kelanjutan koreksi dari level tertinggi sebelumnya. Kondisi ini diperparah oleh pergerakan bearish di time frame mingguan, yang menunjukkan dominasi penjual pada pasar saham.
Analis dari MNC Sekuritas menyatakan bahwa pergerakan IHSG saat ini berada dalam fase wave a dari wave (x), yang menandakan potensi penurunan lebih lanjut hingga mencapai area 6.157 hingga 6.209. Dalam skenario ini, level support terdekat diproyeksikan berada di angka 6.174 dan 6.108, sementara resistensi berada pada rentang 6.380 hingga 6.535. Rekomendasi saham yang disebutkan mencakup COIN, INDF, HMSP, dan ENRG sebagai instrumen yang dinilai memiliki prospek tertentu dalam kondisi pasar saat ini.
Di sisi lain, analis Binaartha Sekuritas menilai bahwa pergerakan IHSG menunjukkan sinyal pelemahan lebih dalam, terutama setelah membentuk candle bearish marubozu pada grafik mingguan. Target penurunan terdekat dipatok di level 6.159, dengan potensi penurunan lebih lanjut hingga klaster support 6.015 hingga 6.029 jika tekanan jual tetap kuat. Dalam proyeksi ini, level support terendah yang diantisipasi adalah 5.850, sementara resistensi utama berada di 6.423, 6.552, dan 6.712. Rekomendasi saham yang disebutkan meliputi ADRO, BBRI, BUMI, dan DEWA.
Data perdagangan Jumat (25/9) menunjukkan aktivitas pasar dengan nilai transaksi mencapai Rp9,43 triliun, volume perdagangan 33,23 miliar saham, dan frekuensi transaksi sebanyak 1,63 juta kali. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 558 mengalami penurunan harga, 118 menguat, dan 117 stagnan. Angka-angka ini menunjukkan dominasi penurunan yang konsisten di sektor pasar modal, mengindikasikan sentimen investor yang masih cenderung defensif.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Konektivitas Digital Jadi Fondasi Ekonomi Berdaulat
Peringatan Hari Bhakti Postel ke-81 menekankan pentingnya infrastruktur digital untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif dan inklusif di seluruh wilayah Indonesia.
28 September 2026

UMK Binaan Pertamina Siap Ekspor Lewat Pelatihan Bisnis Intensif
Puluhan pelaku UMK binaan Pertamina mengikuti pelatihan profesional untuk memperkuat daya saing dalam ajang temu bisnis global Oktober 2026.
28 September 2026

Alokasi Anggaran Pencegahan Stunting di Daerah Menurun Drastis
Penurunan anggaran intervensi gizi di APBD daerah mencapai Rp20,2 triliun pada 2026, menunjukkan tekanan fiskal dan tantangan implementasi program.
28 September 2026

RI Siap Hentikan Impor Bensin Lewat Bioetanol E50
Pemerintah kaji penerapan bahan bakar bioetanol E50 untuk menghentikan impor bensin, berbasis produksi dalam negeri dari tebu, singkong, dan jagung.
28 September 2026
Berita Lainnya

Rifqi Mahesa Sabet Medali Emas di Arung Palakka Champion Bone 2026
Senin, 28 September 2026, 12.42 WITA

Potensi Hujan Lebat di Sejumlah Wilayah Sulawesi Tenggara
Senin, 28 September 2026, 12.18 WITA

Potensi Hujan Lebat di 19 Wilayah, BMKG Imbau Waspada
Senin, 28 September 2026, 12.18 WITA

Peringatan Hari Bhakti Postel 2026 di Bandung Tegaskan Kebangkitan Kepemerintahan Digital Awal Kemerdekaan
Senin, 28 September 2026, 12.17 WITA

Konektivitas Digital Jadi Fondasi Indonesia Berdaulat
Senin, 28 September 2026, 12.16 WITA

Pergeseran Kurikulum di Kampus China Akibat Dominasi AI
Senin, 28 September 2026, 12.15 WITA

Konektivitas Digital sebagai Fondasi Kedaulatan Nasional
Senin, 28 September 2026, 12.15 WITA

PHK Meningkat, Penciptaan Kerja Tetap Dominan
Senin, 28 September 2026, 12.14 WITA

