Sabtu, 3 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Podcast dan Radio: Dua Dunia Berbeda, Satu Tujuan Menyentuh Pendengar

Podcast kian populer di Indonesia, namun radio tetap eksis melalui adaptasi digital dan keunikan pengalaman langsung yang tak tergantikan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Sabtu, 3 Oktober 2026, 15.23 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 12x dibuka
Podcast dan Radio: Dua Dunia Berbeda, Satu Tujuan Menyentuh Pendengar📷 ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Perkembangan media audio di Indonesia menunjukkan pergeseran signifikan dari radio tradisional ke platform podcast yang lebih fleksibel. Kini, masyarakat tidak lagi terikat pada jadwal siaran tetap, melainkan bebas memilih konten sesuai minat dan waktu. Survei yang dilakukan oleh Snapcart pada 2026 terhadap 1.638 responden mengungkapkan bahwa meski sebagian besar pendengar belum menjadikan podcast sebagai kebiasaan harian, tren konsumsi media ini terus meningkat. Hanya 17 persen responden mendengarkan podcast setiap hari, namun sebanyak 43 persen mengaksesnya kurang dari sekali dalam seminggu, menunjukkan adanya keterbukaan terhadap konten audio yang personal dan beragam.

Kekuatan utama podcast terletak pada kebebasan pilihan dan personalisasi. Pendengar tidak perlu menunggu waktu tertentu untuk menyimak topik yang diminati. Menurut survei, 47 persen responden memilih podcast berdasarkan topik, sementara 33 persen mempertimbangkan narasumber atau pembawa acara. Dari komedi hingga kesehatan mental, dari olahraga hingga isu sosial, konten podcast mampu menjangkau berbagai minat dengan kedalaman yang lebih mendalam dibandingkan siaran radio konvensional. Bahkan, banyak podcast kini hadir dalam format video, yang dapat diakses melalui YouTube dan YouTube Music—platform yang digunakan oleh 76 persen responden—sementara Spotify digunakan oleh 16 persen.

Di tengah dominasi digital, radio tidak menghilang, melainkan bertransformasi. Banyak stasiun radio kini menyediakan siaran secara streaming melalui aplikasi, situs web, dan YouTube. Contohnya, Prambors kembali menayangkan The Dandees, segmen ikonik yang dibawakan oleh Dimas Danang Suryonegoro dan Imam Darto, melalui platform digital. Komisi Penyiaran Indonesia pada 2025 mencatat bahwa meski cara akses berubah, pendengar radio tetap bertahan. Bahkan, RRI mulai memperluas produksi konten ke platform podcast melalui Voice of Indonesia, menunjukkan bahwa radio tidak melawan podcast, tetapi berkolaborasi dengannya.

Yang membedakan radio dari podcast adalah sifat langsung dan tak terduga. Saat menyalakan radio, pendengar tidak tahu apa yang akan disampaikan berikutnya—bisa saja berita lalu lintas, lagu tiba-tiba diputar, atau percakapan spontan di studio. Pengalaman ini tidak bisa direplikasi oleh podcast yang sudah direkam dan dipilih secara selektif. Radio tetap memegang keunggulan dalam memberikan kehadiran nyata dan interaksi real-time, sesuatu yang sulit digantikan oleh konten yang telah diproduksi sebelumnya.

Kedua medium ini, meski berbeda, sama-sama memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi, hiburan, dan koneksi. Podcast menawarkan kedalaman dan kebebasan, sementara radio menawarkan kehadiran dan kejutan. Tidak ada yang menggantikan satu sama lain, melainkan saling melengkapi dalam ekosistem media audio yang semakin dinamis dan inklusif.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya