Sabtu, 24 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Prabowo Salurkan Rp15 M untuk Tangani Karhutla di Sampit

Presiden Prabowo Subianto menyalurkan dana Rp15 miliar untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan di Sampit, Kotawaringin Timur, dengan fokus pada pemadaman udara dan darat serta pemantauan lanjutan.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 18 Oktober 2026, 15.28 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 101x dibuka
Prabowo Salurkan Rp15 M untuk Tangani Karhutla di Sampit📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Presiden Prabowo Subianto telah menyetujui penyaluran dana bantuan sebesar Rp15 miliar untuk mendukung upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Dana tersebut diserahkan melalui mekanisme Banpres dan menjadi bagian dari respons pemerintah terhadap kondisi darurat kebakaran yang terjadi di lahan gambut. Penyaluran dana ini disampaikan langsung oleh Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dalam kunjungan kerja ke lokasi kejadian pada malam hari, Sabtu (17/10).

Dalam keterangan tertulis yang dirilis Minggu (18/10), Raja Juli menegaskan bahwa dana tersebut harus dimanfaatkan secara optimal dan efisien. Ia menyampaikan bahwa Presiden meminta agar seluruh sumber daya yang tersedia dikerahkan secara maksimal, termasuk dukungan dari operasi udara seperti water bombing dan penggunaan dry ice, serta upaya modifikasi cuaca untuk mengendalikan penyebaran api. Selain itu, pendekatan darat juga diperkuat dengan melibatkan pasukan darat dan satuan tugas khusus.

Penanganan karhutla di daerah ini menekankan pentingnya pemadaman menyeluruh hingga titik api benar-benar padam, karena kebakaran di lahan gambut cenderung sulit dipadamkan dan berisiko membara kembali. Untuk itu, petugas diperintahkan melakukan pemantauan intensif setelah proses pemadaman selesai. Koordinasi lintas sektor melibatkan Manggala Agni Kementerian Kehutanan, TNI, Polri, BPBD, Masyarakat Peduli Api (MPA), serta relawan yang bekerja secara kolaboratif di lapangan.

Berdasarkan data dari Kementerian Kehutanan, wilayah Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Barat menjadi fokus utama penanganan karena tingginya indikasi hotspot. Hotspot yang terdeteksi melalui satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 merupakan petunjuk awal dari aktivitas kebakaran, namun perlu diverifikasi lapangan karena satu kejadian bisa terdeteksi sebagai beberapa titik panas. Dengan demikian, upaya penanganan tetap mengedepankan verifikasi lapangan dan respons cepat untuk mencegah penyebaran lebih luas.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya