Rabu, 23 September 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Ratusan Santri Dijemput Orang Tua Usai Dugaan Pelecehan Seksual di Ponpes NTB

Ratusan orang tua santri di Ponpes Abul Barokat Wannafahat, Lombok Tengah, menjemput anak mereka setelah muncul dugaan kekerasan seksual oleh pimpinan pesantren, dengan sebagian memutuskan anaknya tidak kembali.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 23 September 2026, 09.08 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Ratusan Santri Dijemput Orang Tua Usai Dugaan Pelecehan Seksual di Ponpes NTB📷 BBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Sejumlah orang tua santri dari Pondok Pesantren Abul Barokat Wannafahat, Desa Bunkate, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah, memilih menjemput anak-anaknya pada Selasa (22/09), menyusul munculnya informasi terkait dugaan kekerasan seksual yang dilakukan pimpinan pesantren. Keputusan ini diambil karena kekhawatiran terhadap keselamatan anak-anak, khususnya bagi santri perempuan yang diduga menjadi korban. Proses penjemputan berlangsung sejak pagi hari, saat aktivitas pesantren diliburkan sementara.

Pimpinan ponpes, melalui pengurus Komite, mengonfirmasi libur sementara hingga Kamis, 24 September 2026, dengan alasan kondisi tidak kondusif untuk pembelajaran. Sahfan, salah satu pengurus, menyatakan bahwa keputusan ini diambil mengingat adanya gejolak yang terjadi pasca-penyebaran informasi tentang dugaan pelecehan. Ia menegaskan bahwa saat ini terdapat sekitar 800 santri, baik laki-laki maupun perempuan, yang berasal dari berbagai daerah di NTB serta Kalimantan.

Sebagian besar orang tua yang menjemput anaknya menyatakan tidak akan mengizinkan anaknya kembali ke ponpes tersebut. Hirmawati, salah satu wali santri dari Jero Waru, menegaskan bahwa putrinya yang saat ini duduk di kelas dua MTs dan putranya di kelas tiga MA tidak akan kembali, lantaran merasa tidak aman. Ia menilai cara guru dan pimpinan pesantren dalam menangani isu tersebut mencerminkan lingkungan yang tidak sehat. Beberapa orang tua lain juga menyampaikan kekhawatiran terhadap tindakan tak terduga yang bisa terjadi jika anak tetap tinggal.

Dari hasil investigasi bersama tim BBC Eye, Pusat Bantuan Hukum (PBH) Universitas Mataram menyatakan telah melengkapi bukti baru terkait kasus dugaan kekerasan seksual yang diduga dilakukan Ahmad Imanuddin Sumar, atau yang akrab disapa Abah. Pada 3 Februari 2025, PBH Unram telah membuat laporan awal dengan satu korban, namun bukti belum memadai. Kini, setelah kerja sama investigasi, pihaknya menyerahkan bukti baru seperti rekaman pengakuan dari tokoh pesantren dan bukti rekaman istri sang pimpinan. Diperkirakan terdapat lima korban, sebagian besar tinggal di luar negeri seperti Mesir.

Kasat Reskrim Polres Lombok Tengah, AKP Punguan Hutahaen, menegaskan bahwa penanganan kasus ini akan menjadi prioritas utama. Ia menegaskan bahwa kepolisian akan memastikan proses hukum berjalan secara transparan dan adil. Sementara itu, warga sekitar pesantren menyebut lingkungan ponpes sangat tertutup, dengan sedikit interaksi antara penghuni pesantren dan masyarakat sekitar. Tidak ada aktivitas jual beli di area pesantren, dan anak-anak hanya diperbolehkan berbelanja di kantin internal, menambah kesan terisolasi dari lingkungan luar.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya