Jumat, 9 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Melemah Tipis di Akhir Pekan, BI Pertahankan Suku Bunga

Rupiah ditutup melemah 0,08% ke level Rp17.875 per dolar AS, didukung kebijakan moneter stabil dan data fiskal yang masih terkendali.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 9 Oktober 2026, 17.33 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 5x dibuka
Rupiah Melemah Tipis di Akhir Pekan, BI Pertahankan Suku Bunga📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Nilai tukar rupiah mengalami sedikit penurunan pada penutupan perdagangan Jumat (9/10/2026), berakhir di posisi Rp17.875 per dolar AS, melemah dibandingkan penutupan sehari sebelumnya yang berada di Rp17.890. Meskipun sempat menguat di awal sesi hingga mencapai Rp17.855, penguatan tersebut tidak bertahan hingga akhir hari. Pergerakan mata uang domestik terpantau fluktuatif seiring dinamika pasar global dan sentimen domestik. Indeks dolar AS pada pukul 15.00 WIB menunjukkan pelemahan 0,11% ke level 102,025, mencerminkan tekanan berkurang terhadap greenback.

Kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) menjadi sorotan utama pasar, terutama terkait keputusan untuk tidak menaikkan suku bunga acuan meski The Federal Reserve telah melakukan kenaikan pada September 2026. Destry Damayanti, dalam pernyataan terkini, menegaskan bahwa keputusan tersebut didasarkan pada analisis menyeluruh terhadap dampak kebijakan terhadap seluruh sektor ekonomi. BI menilai kenaikan suku bunga yang sudah dilakukan pada Mei-Juni 2026 sudah cukup efektif menjaga stabilitas inflasi dan nilai tukar rupiah. Saat ini, BI lebih memilih memanfaatkan instrumen lain seperti insentif biaya hedging untuk menopang stabilitas pasar.

Di sisi fiskal, pemerintah melaporkan defisit APBN hingga September 2026 sebesar Rp319 triliun, atau setara 1,24% dari PDB. Angka ini sesuai dengan rencana yang telah direncanakan, dengan realisasi pendapatan negara mencapai Rp2.341,5 triliun dan belanja sebesar Rp2.660,5 triliun. Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyatakan bahwa defisit tersebut berjalan sesuai rencana dan tidak menunjukkan tanda-tanda ketidakstabilan. Realisasi subsidi dan kompensasi mencapai Rp376,8 triliun, naik 54,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, disebabkan oleh fluktuasi harga minyak mentah Indonesia (ICP), pergerakan nilai tukar rupiah, serta peningkatan konsumsi energi bersubsidi.

Kinerja konsumsi domestik juga menjadi faktor penopang optimisme pasar. Indeks Penjualan Riil (IPR) Agustus 2026 tumbuh 1,3% dibandingkan tahun sebelumnya, lebih tinggi dari pertumbuhan Juli yang sebesar 1,1%. BI memproyeksikan pertumbuhan IPR untuk bulan September akan mencapai 1,4% secara tahunan. Data ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi dalam negeri masih menunjukkan tren positif, yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Perkembangan ini menjadi acuan bagi investor dalam menilai kesehatan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global. Stabilitas kebijakan moneter, pengelolaan fiskal yang terukur, serta kinerja konsumsi yang terus membaik menjadi faktor penentu daya tarik aset lokal. BI menegaskan bahwa kebijakan yang diambil dirancang untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas harga, pertumbuhan ekonomi, dan kestabilan nilai tukar.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya