Jumat, 9 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Pemerintah Siapkan Skema Penyerapan Jagung Saat Panen Raya

Pemerintah mempersiapkan skema penyerapan jagung saat panen raya untuk menstabilkan harga petani dan menekan biaya pakan peternak melalui kemitraan Bulog dan koperasi.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 9 Oktober 2026, 15.21 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Pemerintah Siapkan Skema Penyerapan Jagung Saat Panen Raya📷 ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Pemerintah tengah menyiapkan mekanisme penyerapan jagung pada masa panen raya guna menyeimbangkan kepentingan petani dan peternak. Tujuannya adalah memastikan petani mendapatkan harga yang layak saat hasil panen melimpah, sekaligus memastikan peternak memiliki akses terhadap jagung sebagai bahan baku pakan dengan harga terjangkau. Menteri Pertanian menegaskan bahwa keberlangsungan usaha peternakan merupakan bagian penting dari stabilitas pangan nasional.

Skema ini dirancang agar jagung dibeli saat harga rendah dan disimpan melalui koperasi, kemudian diperuntukkan bagi peternak saat harga naik. Dalam sistem ini, Perum Bulog bertindak sebagai pembiaya, sementara peternak menjadi pihak yang menyerap stok saat panen tiba. Dengan demikian, tercipta alur pasokan yang stabil sepanjang tahun, mengurangi fluktuasi harga, dan memperkuat ketahanan pangan.

Kini, sekitar 40 ribu ton jagung telah masuk dalam perencanaan penyerapan, meskipun pemerintah menyadari keterbatasan kapasitas. Oleh karena itu, diperlukan perhitungan ulang terhadap anggaran yang dibutuhkan agar skema ini dapat berjalan efektif. Prioritas penyaluran akan ditentukan berdasarkan ketersediaan jagung dan kebutuhan aktual peternak di lapangan.

Kendala teknis seperti kadar air jagung juga menjadi perhatian utama. Jagung dari daerah seperti Nusa Tenggara Barat yang memiliki kadar air 16–17 persen sulit diserap karena standar Bulog hanya menerima jagung dengan kadar air maksimal 14 persen. Menanggapi hal ini, pemerintah mengalokasikan anggaran Rp5 triliun untuk memperkuat fasilitas pergudangan dan menambah fasilitas pengering (dryer), terutama di wilayah sentra produksi seperti NTB dan Gorontalo.

Dengan penguatan infrastruktur penyimpanan dan pengeringan, diharapkan hasil panen petani dapat terserap secara optimal, tanpa menimbulkan kerugian akibat penurunan kualitas. Skema ini diharapkan menjadi solusi berkelanjutan untuk menjaga keseimbangan ekosistem pakan ternak, menjamin keuntungan petani, serta meringankan beban operasional peternak di seluruh wilayah.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya