Jumat, 9 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Presiden Togo Berkuasa 38 Tahun Meski Tak Tamat SD

Seorang pemimpin Afrika yang tidak menyelesaikan pendidikan dasar memimpin Togo selama 38 tahun, mengukir sejarah sebagai salah satu pemimpin paling lama di benua tersebut.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 9 Oktober 2026, 15.24 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 2x dibuka
Presiden Togo Berkuasa 38 Tahun Meski Tak Tamat SD📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Gnassingbe Eyadema, pemimpin Togo selama hampir empat dekade, menjadi simbol kekuasaan yang tak tergoyahkan meski memiliki latar belakang pendidikan terbatas. Ia tidak menamatkan sekolah dasar, namun berhasil menjabat sebagai kepala negara sejak usia muda, menggantikan pemimpin pertama Togo, Sylvanus Olympio, melalui kudeta militer pada 1967. Awal kekuasaannya dipenuhi ketidakpastian, dengan keterbatasan kemampuan berpidato dan kurangnya pengalaman politik, sehingga pengambilan keputusan sering kali didominasi oleh penasihat asing, termasuk tokoh Prancis seperti Jacques Foccart.

Kekuasaan Eyadema dibangun atas dasar teror dan kultus kepribadian. Ia memanfaatkan narasi keselamatan dari kecelakaan pesawat tahun 1974 sebagai simbol kekebalan, sambil menyebar kabar bahwa dirinya selalu lolos dari upaya pembunuhan. Ia bahkan memamerkan buku catatan yang tertembus peluru sebagai bukti, sambil membangun sistem politik yang mengesampingkan oposisi. Lawan politik didepak, diasingkan, atau menghilang secara misterius, termasuk mantan Wakil Presiden Meatchi dan tokoh militer populer Kolonel Koffi Kongo.

Untuk memperkuat dominasi, ia mendirikan partai tunggal, Rassemblement du Peuple Togolais, pada 1969, yang menjadi alat utama untuk mengendalikan sistem politik dan pemilu. Pemilu hanya digelar secara terbatas, dan hasilnya selalu mendukung kekuasaannya, menjadikan Togo sebagai negara satu partai dengan kontrol ketat atas institusi negara. Meskipun berkuasa selama 38 tahun, ia tetap mempertahankan citra sebagai pemimpin yang diberkati, bahkan menetapkan kebijakan yang memperkuat otoritas keluarganya secara turun-temurun.

Sebelum wafat pada 2005 pada usia 69 tahun, Eyadema menetapkan anaknya, Faure Gnassingbé, sebagai pewaris kekuasaan. Meski tidak langsung menjadi presiden, Faure kemudian menjabat sebagai presiden dewan sejak 2025, posisi eksekutif strategis yang dibentuk oleh konstitusi baru 2024. Posisi ini memungkinkan dia memegang kendali nyata atas pemerintahan, menandai kelanjutan dominasi keluarga Gnassingbé di Togo.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya