Jumat, 9 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Produksi Padi Aman di Tengah El Nino, Pemerintah Perkuat Dukungan Lapangan

Pemerintah menegaskan produksi padi nasional tetap terjaga meski terdampak El Nino, dengan luas lahan terdampak maksimal 50 ribu hektare dan berbagai intervensi teknis serta ekonomi dilakukan untuk menjaga keseimbangan harga dan pendapatan petani.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 9 Oktober 2026, 15.43 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 4x dibuka
Produksi Padi Aman di Tengah El Nino, Pemerintah Perkuat Dukungan Lapangan📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Kondisi musim kering akibat fenomena El Nino tidak mengancam stabilitas produksi padi nasional, menurut pernyataan resmi dari Kementerian Pertanian. Jumlah lahan yang terdampak diperkirakan mencapai 50 ribu hektare, angka yang dianggap masih dalam batas terkendali dibandingkan total luas tanam yang diperkirakan mencapai 11 juta hektare hingga akhir tahun. Pemerintah menilai situasi ini tetap terkendali dan tidak mengganggu pasokan pangan nasional.

Upaya antisipatif telah dilakukan secara intensif di lapangan, meliputi peningkatan kapasitas irigasi, pemanfaatan pompa air, serta optimalisasi lahan melalui metode oplah. Selain itu, penerapan irigasi perpompaan (irpom) dan penggunaan benih unggul yang tahan kekeringan menjadi bagian dari strategi penanganan. Teknologi pertanian modern seperti PM-AAS juga diperluas untuk meningkatkan produktivitas tanaman secara signifikan.

Pemerintah memastikan keseimbangan antara harga gabah yang menguntungkan petani dan ketersediaan beras bagi konsumen. Harga gabah yang tinggi saat ini menjadi keuntungan langsung bagi petani, sementara operasi pasar dilakukan oleh Bulog untuk menjaga harga beras tetap terjangkau. Selain itu, program bantuan pangan dan SPHP (Sistem Pasokan Harga Pangan) turut diterapkan untuk menjamin kestabilan pasar.

Dengan penerapan metode budidaya berbasis teknologi dan benih unggul, pendapatan petani diperkirakan mencapai Rp15–16 juta per bulan per hektare. Untuk lahan setengah hektare, pendapatan bisa mencapai Rp8 juta per bulan, menunjukkan efektivitas program pertanian modern yang kini diperluas di seluruh wilayah Indonesia. Hal ini sekaligus menjadi daya tarik bagi petani untuk beralih ke metode baru.

Di samping menjaga ketahanan pangan dalam negeri, pemerintah juga mulai mengevaluasi peluang ekspor beras ke negara tetangga. Malaysia, Papua Nugini, dan Timor-Leste telah menjadi target pasar utama, sementara Filipina dan negara lain sedang dalam tahap pendekatan untuk memperluas pasar ekspor.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya