Jumat, 2 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Rupiah Menguat Awal Pekan, Dolar AS Melemah ke Rp17.925

Rupiah dibuka menguat ke level Rp17.925 per dolar AS pada awal perdagangan Jumat, didukung sentimen domestik dan tekanan imbal hasil obligasi AS yang mulai menurun.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Jumat, 2 Oktober 2026, 12.03 WITA·👁 0 orang membaca· 0 hari ini · 1x dibuka
Rupiah Menguat Awal Pekan, Dolar AS Melemah ke Rp17.925📷 CNBC Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pada awal perdagangan Jumat (2/10/2026), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menunjukkan kekuatan dengan membuka di posisi Rp17.925 per dolar, menguat 0,08% dibandingkan penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp17.940. Pergerakan ini menandai pemulihan setelah tekanan pelemahan yang terjadi dalam sesi sebelumnya, seiring pergerakan pasar global yang mulai menyesuaikan diri dengan dinamika ekonomi terkini.

Indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.00 WIB berada di level 102,107, menunjukkan kenaikan kecil terhadap sejumlah mata uang utama. Di dalam negeri, sentimen pasar dipengaruhi oleh sejumlah isu penting, termasuk proses reshuffle kabinet, pelaksanaan aturan short selling, serta respons terhadap rilis data ekonomi seperti manufaktur, neraca perdagangan, dan inflasi yang telah diterbitkan sebelumnya.

Di pasar obligasi domestik, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik 5,3 basis poin menjadi 7,159% pada Kamis (1/10/2026), meningkat dari posisi sebelumnya 7,106%. Kenaikan yield ini mencerminkan tekanan harga terhadap obligasi pemerintah, yang biasanya berdampak pada likuiditas dan ekspektasi suku bunga. Di sisi lain, imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun sempat mencapai 5,34% pada Kamis, level tertinggi sejak 2002, sebelum turun ke kisaran 5,26%. Penurunan ini mengurangi daya tarik aset berbasis dolar dan memberi ruang bagi mata uang negara berkembang seperti rupiah untuk memperkuat posisi.

Pelaku pasar juga memantau rilis data ekonomi AS dalam waktu dekat, termasuk klaim pengangguran, indeks manufaktur ISM, tingkat pengangguran, dan non-farm payrolls, yang menjadi acuan penting dalam menilai arah kebijakan The Federal Reserve. Di samping itu, volatilitas harga minyak dunia turut menjadi perhatian, dengan lonjakan lebih dari US$4 per barel pada Kamis. Kenaikan ini dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk kabar pengiriman pasukan tambahan oleh AS, serta kebijakan China yang menghentikan ekspor produk minyak di luar wilayah Hong Kong dan Makau. Larangan ekspor diesel dari Rusia hingga Oktober juga menambah kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya