Singapura Aktifkan Subsidi Kesehatan Akibat Kabut Asap
Pemerintah Singapura kembali mengaktifkan subsidi perawatan kesehatan bagi warga yang terdampak kabut asap, menekankan akses ke layanan primer dan pengurangan beban rumah sakit.
Redaksi iNarasikita·Rabu, 14 Oktober 2026, 09.04 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 27x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Pemerintah Singapura telah menghidupkan kembali skema subsidi pengobatan untuk warganya yang mengalami gangguan kesehatan akibat kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan. Kebijakan ini berlaku di klinik dokter umum dan poliklinik, khususnya bagi mereka yang mengalami gejala terkait polusi udara. Menteri Kesehatan Ong Ye Kung mengumumkan kebijakan tersebut pada Minggu (11/10), menyebut tujuan utamanya adalah memastikan masyarakat dapat mendapatkan perawatan awal tanpa kesulitan finansial, sekaligus mencegah lonjakan kunjungan ke unit gawat darurat.
Seluruh warga negara Singapura berhak mendapatkan subsidi di poliklinik, sementara di klinik kesiapsiagaan kesehatan masyarakat (PHPC) hanya berlaku bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penerima bantuan publik. Pemegang kartu CHAS Biru dan Oranye, serta anggota Generasi Perintis dan Generasi Merdeka, hanya perlu membayar maksimal S$5 (sekitar Rp69 ribu) untuk perawatan. Warga lain yang memenuhi syarat dikenai batas maksimal S$10 (sekitar Rp140 ribu). Subsidi ini mencakup kondisi seperti asma, bronkitis, rinitis alergi, konjungtivitis, PPOK, dan infeksi saluran pernapasan atas, selama dokter menilai hubungan langsung dengan paparan kabut asap.
Pemerintah menekankan bahwa obat hanya diberikan sesuai kebutuhan medis dan tidak mencakup perawatan untuk penyakit non-asap. Masyarakat dapat mengecek daftar klinik PHPC yang terlibat melalui situs resmi Kementerian Kesehatan atau melalui stiker dan poster yang terpampang di lokasi. Saat ini, sekitar 1.000 dari 1.370 klinik PHPC telah menyatakan kesiapan berpartisipasi dalam skema ini. Kebijakan ini terakhir kali diberlakukan pada 2015, saat Singapura dilanda kabut asap parah akibat kebakaran di wilayah tetangga.
Peningkatan kasus gangguan pernapasan di unit gawat darurat dan poliklinik menjadi alasan utama pengaktifan kembali subsidi. Ong Ye Kung menekankan pentingnya masyarakat mengunjungi klinik primer terlebih dahulu jika kondisinya tidak kritis, agar fasilitas darurat tetap tersedia untuk kasus yang mengancam jiwa. Ia menegaskan bahwa dokter keluarga mampu menangani sebagian besar kasus ringan, dan masyarakat tidak perlu langsung ke rumah sakit.
Di samping subsidi, rumah sakit dan fasilitas kesehatan telah memperkuat kesiapsiagaan dengan menutup jendela, mengaktifkan pembersih udara, dan memanfaatkan ventilasi terkendali. Kualitas udara Singapura pada 11 Oktober masih berada dalam kategori tidak sehat, dengan Indeks Standar Polutan (PSI) 24 jam mencapai 192 di wilayah tengah—angka tertinggi sejak musim kabut asap tahun ini. Jika PSI melampaui 200, langkah tambahan seperti distribusi masker N95 dan pembukaan tempat perlindungan berpendingin udara akan segera dilaksanakan.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Gubernur Kalteng Tanam Pohon di Lokasi Karhutla Tumbang Nusa
Gubernur Kalteng lakukan penanaman pohon di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan sebagai bagian dari rehabilitasi lingkungan dan ajakan bersama jaga kelestarian alam.
24 Oktober 2026

Menteri Tinjau Langsung BSPS di Jakarta Barat
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman meninjau program BSPS di Cengkareng untuk memastikan bantuan bedah rumah sampai tepat sasaran kepada masyarakat berpenghasilan rendah.
24 Oktober 2026

Pemerintah dan Pertamina Percepat Siap Operasional Kilang RDMP Balikpapan
Pemerintah dan Pertamina memastikan kesiapan operasional Kilang RDMP Balikpapan dengan progres 99 persen, demi menjaga keandalan pasokan energi nasional.
24 Oktober 2026

Pemerintah Perkuat Rantai Pasok Pangan Hadapi Tantangan Iklim
Menteri Pertanian menekankan perlunya perbaikan rantai pasok pangan untuk mengatasi disparitas harga antara peternak dan konsumen di tengah ancaman iklim ekstrem.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

D-8 Dorong Perdamaian Melalui Diplomasi dan Kolaborasi Ekonomi
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.26 WITA

Madrasah Harus Jadi Ruang Belajar Inklusif dan Aman Digital
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.26 WITA

PLTS Terapung di Waduk Tembesi Capai 74 Persen Progres
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.25 WITA

OJK Sultra Dorong Inklusi Keuangan Lewat BIK 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.25 WITA
Sulut Juara Umum Kejurnas Pacuan Kuda 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.23 WITA

7 Kebiasaan Sederhana untuk Hidup Lebih Bahagia
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.21 WITA

Makan Sebelum dan Sesudah Olahraga, Kunci Optimalisasi Performa Tubuh
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.20 WITA

Monako Ungguli Dunia sebagai Tempat Tinggal Terbaik 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.11 WITA

