Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Singapura Aktifkan Subsidi Kesehatan Akibat Kabut Asap

Pemerintah Singapura kembali mengaktifkan subsidi perawatan kesehatan bagi warga yang terdampak kabut asap, menekankan akses ke layanan primer dan pengurangan beban rumah sakit.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Rabu, 14 Oktober 2026, 09.04 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 27x dibuka
Singapura Aktifkan Subsidi Kesehatan Akibat Kabut Asap📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Pemerintah Singapura telah menghidupkan kembali skema subsidi pengobatan untuk warganya yang mengalami gangguan kesehatan akibat kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan. Kebijakan ini berlaku di klinik dokter umum dan poliklinik, khususnya bagi mereka yang mengalami gejala terkait polusi udara. Menteri Kesehatan Ong Ye Kung mengumumkan kebijakan tersebut pada Minggu (11/10), menyebut tujuan utamanya adalah memastikan masyarakat dapat mendapatkan perawatan awal tanpa kesulitan finansial, sekaligus mencegah lonjakan kunjungan ke unit gawat darurat.

Seluruh warga negara Singapura berhak mendapatkan subsidi di poliklinik, sementara di klinik kesiapsiagaan kesehatan masyarakat (PHPC) hanya berlaku bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penerima bantuan publik. Pemegang kartu CHAS Biru dan Oranye, serta anggota Generasi Perintis dan Generasi Merdeka, hanya perlu membayar maksimal S$5 (sekitar Rp69 ribu) untuk perawatan. Warga lain yang memenuhi syarat dikenai batas maksimal S$10 (sekitar Rp140 ribu). Subsidi ini mencakup kondisi seperti asma, bronkitis, rinitis alergi, konjungtivitis, PPOK, dan infeksi saluran pernapasan atas, selama dokter menilai hubungan langsung dengan paparan kabut asap.

Pemerintah menekankan bahwa obat hanya diberikan sesuai kebutuhan medis dan tidak mencakup perawatan untuk penyakit non-asap. Masyarakat dapat mengecek daftar klinik PHPC yang terlibat melalui situs resmi Kementerian Kesehatan atau melalui stiker dan poster yang terpampang di lokasi. Saat ini, sekitar 1.000 dari 1.370 klinik PHPC telah menyatakan kesiapan berpartisipasi dalam skema ini. Kebijakan ini terakhir kali diberlakukan pada 2015, saat Singapura dilanda kabut asap parah akibat kebakaran di wilayah tetangga.

Peningkatan kasus gangguan pernapasan di unit gawat darurat dan poliklinik menjadi alasan utama pengaktifan kembali subsidi. Ong Ye Kung menekankan pentingnya masyarakat mengunjungi klinik primer terlebih dahulu jika kondisinya tidak kritis, agar fasilitas darurat tetap tersedia untuk kasus yang mengancam jiwa. Ia menegaskan bahwa dokter keluarga mampu menangani sebagian besar kasus ringan, dan masyarakat tidak perlu langsung ke rumah sakit.

Di samping subsidi, rumah sakit dan fasilitas kesehatan telah memperkuat kesiapsiagaan dengan menutup jendela, mengaktifkan pembersih udara, dan memanfaatkan ventilasi terkendali. Kualitas udara Singapura pada 11 Oktober masih berada dalam kategori tidak sehat, dengan Indeks Standar Polutan (PSI) 24 jam mencapai 192 di wilayah tengah—angka tertinggi sejak musim kabut asap tahun ini. Jika PSI melampaui 200, langkah tambahan seperti distribusi masker N95 dan pembukaan tempat perlindungan berpendingin udara akan segera dilaksanakan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya