Minggu, 25 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Singapura Diduga Tekan Klasifikasi Pasar Saham RI

Eks Menteri Perdagangan menuding Singapura melalui entitas seperti Temasek dan GIC memengaruhi keputusan MSCI soal status pasar modal Indonesia, dengan tujuan memicu kepanikan dan memungkinkan pembelian saham murah oleh investor asing.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Selasa, 20 Oktober 2026, 12.20 WITA·👁 1 orang membaca· 0 hari ini · 57x dibuka
Singapura Diduga Tekan Klasifikasi Pasar Saham RI📷 CNN Indonesia

Kendari, ıNarasikita - Eks Menteri Perdagangan Republik Indonesia, Muhammad Lutfi, menyampaikan kekhawatiran serius terkait rencana perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI). Ia menilai upaya tersebut tidak murni berbasis faktor teknis, melainkan didorong oleh tekanan dari pihak-pihak asing, khususnya dari Singapura. Menurutnya, langkah MSCI yang mempertimbangkan penurunan status Indonesia dari pasar berkembang ke pasar mandiri bukan sekadar keputusan independen, tetapi bagian dari strategi yang dirancang untuk menciptakan ketidakstabilan pasar.

Lutfi menekankan bahwa dua entitas investasi besar asal Singapura, Temasek dan Government Investment Corporation (GIC), memiliki pengaruh signifikan dalam proses pengambilan keputusan di MSCI. Ia menyebut adanya informasi yang menyebut salah satu petinggi GIC, Rachel Goh, turut mengarahkan tekanan terhadap Indonesia. Meski tidak menyertakan bukti konkret, Lutfi menegaskan bahwa dugaan ini muncul dari sumber internal yang dianggap dapat dipercaya, dan menyoroti potensi konflik kepentingan yang muncul dari dominasi pemegang saham asing.

Ia memaparkan bahwa saat ini dana institusi asing telah menarik sekitar 80 persen dari total investasi di pasar modal Indonesia. Karena harga saham tetap stabil saat mereka keluar, mereka tidak bisa kembali membeli secara murah. Dengan perubahan klasifikasi yang diusulkan, Lutfi khawatir akan terjadi penurunan harga secara drastis, sehingga memungkinkan investor asing memanfaatkan momen tersebut untuk membeli saham dengan harga rendah. Menurutnya, hal ini merupakan bentuk manipulasi pasar yang mengancam kemandirian ekonomi nasional.

Lutfi menegaskan bahwa pernyataannya bukan untuk membela pemerintah, melainkan untuk melindungi kepentingan nasional. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak terpecah oleh isu-isu yang bisa memicu kecemasan dan keraguan terhadap stabilitas ekonomi. Ia menekankan pentingnya persatuan dan kesadaran kolektif dalam menjaga harga diri bangsa dari pengaruh eksternal yang merugikan. Menurutnya, kontrol atas kekayaan negara harus tetap berada di tangan rakyat Indonesia.

MSCI telah mengumumkan konsultasi publik terkait usulan perubahan klasifikasi pada 15 Oktober 2026. Keputusan akhir dijadwalkan pada 30 Juni 2027. Alasan utama yang disebutkan oleh MSCI mencakup ketidakjelasan struktur kepemilikan saham, kekhawatiran terhadap perdagangan terkoordinasi, serta kurangnya dampak nyata dari reformasi pasar modal yang konsisten. Namun, dalam pernyataan resminya, tidak ada indikasi atau bukti yang menyebut keterlibatan Singapura atau institusi asing tertentu.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya