Skin Booster 'Kulit Mayat' Dibantah Bukan Produk Estetika Biasa
Penggunaan bahan berbasis jaringan kulit manusia dalam skin booster kini jadi sorotan, dengan dokter menegaskan kebutuhan bukti ilmiah dan keamanan sebelum izin edar di Indonesia.
Redaksi iNarasikita·Minggu, 20 September 2026, 12.17 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 2x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Perawatan kecantikan asal Korea Selatan yang diklaim menggunakan bahan berupa 'kulit mayat' kembali mencuat di ruang digital, memicu kekhawatiran publik terhadap keamanan dan etika penggunaan bahan medis. Produk tersebut dikenal sebagai skin booster yang menawarkan hasil regenerasi kulit secara intensif, namun informasi soal asal-usul bahan baku menimbulkan pertanyaan mendalam. Menurut dokter spesialis kulit dari Persatuan Dokter Spesialis Dermatologi dan Venerologi Indonesia (PERDOSKI), bahan utama dalam produk ini adalah human acelllar dermal matrix (hADM), sebuah bahan yang berasal dari jaringan kulit manusia donor.
Dokter Hanny Nilasari, Ketua Umum PERDOSKI Pusat, menjelaskan bahwa meskipun bahan tersebut diperoleh dari donor, sumber pastinya—apakah dari individu yang masih hidup atau jenazah—belum diklarifikasi secara terbuka. “Kita tidak mengetahui secara pasti apakah donor tersebut hidup atau sudah meninggal,” ujarnya, menekankan perlunya transparansi dalam proses pengambilan jaringan. Ia juga menyampaikan bahwa hingga kini belum ada publikasi ilmiah resmi yang mengungkap secara rinci metode pengolahan dan standar keamanan yang diterapkan dalam produksi bahan tersebut.
Secara medis, hADM lebih umum digunakan dalam prosedur rekonstruksi jaringan, seperti pada pasien pasca-luka bakar atau pasca-operasi besar. Penggunaannya dalam konteks estetika—khususnya sebagai skin booster—dilaporkan belum memiliki dasar klinis yang kuat. Hanny menegaskan bahwa penerapan bahan medis semacam ini untuk tujuan kecantikan harus melalui evaluasi komprehensif, termasuk uji klinis, keamanan jangka panjang, dan pertimbangan etis. “Tanpa bukti ilmiah yang memadai, tidak bisa langsung dikomersialkan,” tegasnya.
Di Indonesia, regulasi penggunaan produk medis estetika sangat ketat. Sebelum produk sejenis diperbolehkan beredar, harus melewati serangkaian uji keamanan, kelayakan klinis, serta persetujuan dari otoritas kesehatan. Hanny menegaskan bahwa keputusan penerimaan produk tersebut akan bergantung pada sejauh mana seluruh aspek tersebut terpenuhi. “Jika semuanya sudah terpenuhi—dari sisi ilmu, keamanan, dan legalitas—baru bisa dipertimbangkan,” tandasnya.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Backpacker India Ditahan Taliban Saat Solo Travel ke Afghanistan
Seorang content creator asal India, Arunima IP, sempat ditahan kelompok Taliban saat melakukan perjalanan solo ke Afghanistan karena melanggar aturan perempuan bepergian sendirian.
20 September 2026

Google Akui Gemini Lakukan Akses Ilegal ke Sistem Perusahaan
Google mengakui model AI konsumennya, Gemini, berhasil menebak kredensial dan mengakses tiga sistem perusahaan tanpa izin pada Mei 2026, yang ditemukan Juli 2026.
20 September 2026

Prabowo Soroti Risiko Hukuman Mati dalam Penanganan Korupsi
Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa hukuman mati berisiko permanen dan tidak bisa diperbaiki, meski menekankan tindakan tegas terhadap korupsi berat seperti kasus Asabri dan dana bencana.
20 September 2026

Pegawai PPPK Diduga Gunakan Ganja, Kementerian PU Ambil Tindakan Tegas
Seorang pegawai PPPK di Kementerian Pekerjaan Umum ditetapkan tersangka kasus narkoba akibat praktik budidaya ganja di Bandung, dan instansi segera mengambil langkah administratif sesuai aturan.
20 September 2026
Berita Lainnya

Kopi Hitam atau Kopi Susu, Mana yang Lebih Ramah Asam Lambung?
Minggu, 20 September 2026, 12.30 WITA

8 Spot Nongkrong di Jaksel Buka Sampai Malam
Minggu, 20 September 2026, 12.27 WITA

Resep Dry Rub Sederhana untuk Ayam Panggang Lezat
Minggu, 20 September 2026, 12.16 WITA

Delegasi Bisnis China Dipertimbangkan Hadiri Kunjungan Xi ke AS
Minggu, 20 September 2026, 12.14 WITA

Gemini Google Sukses Bobol Situs Web dalam Uji Keamanan
Minggu, 20 September 2026, 12.06 WITA

AI dan Ancaman Kepunahan Manusia: Pakar Soroti Risiko Ekstrem
Minggu, 20 September 2026, 12.06 WITA

Jalur Kelok 23 Siap Uji Coba, Dorong Ekonomi Pesisir Selatan
Minggu, 20 September 2026, 12.05 WITA

SKD Sekolah Kedinasan 2026 Dimulai 22 September dengan Passing Grade Jelas
Minggu, 20 September 2026, 12.05 WITA

