Status Darurat di Khyber Pakhtunkhwa Picu Krisis Politik dan Keamanan
Pemberlakuan status darurat di Khyber Pakhtunkhwa oleh pemerintah federal Pakistan memicu protes kuat dari oposisi dan tokoh Pashtun, yang menilai kebijakan itu sebagai intervensi politik terhadap pemerintahan lokal.
Redaksi iNarasikita·Jumat, 16 Oktober 2026, 17.55 WITA·👁 2 orang membaca· 0 hari ini · 57x dibuka
📷 CNN IndonesiaKendari, ıNarasikita - Pemerintah federal Pakistan resmi menerapkan status darurat di Provinsi Khyber Pakhtunkhwa pada 11 Oktober 2026, setelah Presiden Asif Ali Zardari menyetujui kebijakan tersebut berdasarkan Pasal 232 dan 234 Konstitusi atas rekomendasi kabinet yang dipimpin Perdana Menteri Shehbaz Sharif. Langkah ini menghentikan sementara otoritas pemerintahan provinsi yang dipimpin oleh koalisi pendukung mantan Perdana Menteri Imran Khan dari PTI, sambil menyerahkan kendali kepada seorang gubernur yang ditunjuk bersama dewan penasihat. Dalam waktu bersamaan, pasukan militer dikerahkan ke wilayah perbatasan yang berbatasan langsung dengan Afghanistan, menandai eskalasi ketegangan yang telah berlangsung bertahun-tahun.
Pemerintah pusat menyatakan bahwa kebijakan ini merupakan respons terhadap meningkatnya aktivitas kelompok militan yang beroperasi dari kawasan Garis Durand, serta kegagalan negosiasi dan ketidakmampuan pemerintah lokal dalam menangani ancaman keamanan. Namun, sejumlah akademisi dan tokoh politik menilai bahwa pelaksanaan status darurat justru menunjukkan kecenderungan politik yang kuat, terutama menjelang aksi massa besar yang digelar oleh PTI untuk menuntut pembebasan Imran Khan. Menurut analis dari universitas Kabul, A. Shafaq, langkah ini bukan semata urusan keamanan, melainkan bentuk pengendalian politik yang disamarkan sebagai tindakan antisipatif terhadap terorisme.
Reaksi dari kubu oposisi dan pemimpin regional sangat tajam. Zulfikar Bukhari, juru bicara PTI, menyebut kebijakan tersebut sebagai bentuk "kudeta tersembunyi" yang berpotensi memperburuk stabilitas sosial dan memicu konflik bersenjata. Eks anggota parlemen Mohsin Dawar menyoroti keberlanjutan pola kolonial dalam kebijakan pusat terhadap wilayah Pashtun, sementara tokoh nasionalis Afrasiab Khattak menegaskan bahwa warga Pashtun harus diperlakukan sebagai warga negara setara, bukan sebagai objek kebijakan yang dipandang sebagai ancaman. Kritik ini menyoroti ketegangan historis antara pemerintah federal dan masyarakat lokal di wilayah perbatasan.
Perspektif dari Afghanistan juga turut menyumbang analisis kritis. Mantan Duta Besar Afghanistan untuk Pakistan, Atif Mashal, menekankan bahwa status darurat ini tidak bisa dilepaskan dari dinamika strategis militer yang kompleks di kawasan perbatasan. Di sisi lain, mantan Wakil Menteri Pertahanan Afghanistan, Shah Mahmood Miakhel, mengungkap bahwa krisis saat ini merupakan konsekuensi dari kebijakan lama yang sering memanfaatkan kelompok ekstremis sebagai alat politik. Menurut Shafaq, krisis di Khyber Pakhtunkhwa kini merupakan paduan dari tiga tantangan utama: ancaman keamanan, polarisasi politik dalam negeri, dan ketimpangan tata kelola wilayah perbatasan yang berakar sejak lama.
Dengan kehadiran pasukan militer yang kini mengendalikan wilayah tersebut, Pakistan kembali dihadapkan pada dilema fundamental: apakah keamanan bisa ditingkatkan tanpa mengorbankan prinsip demokrasi, atau justru kekuasaan akan terus didominasi melalui instrumen paksa? Pertanyaan ini tidak hanya menyangkut kebijakan lokal, tetapi juga menentukan arah masa depan hubungan antara pusat dan daerah, serta posisi warga Pashtun dalam struktur negara federal yang seharusnya menjunjung kesetaraan.
Komentar Pembaca (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.
Berita Terkait

Gubernur Kalteng Tanam Pohon di Lokasi Karhutla Tumbang Nusa
Gubernur Kalteng lakukan penanaman pohon di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan sebagai bagian dari rehabilitasi lingkungan dan ajakan bersama jaga kelestarian alam.
24 Oktober 2026

Menteri Tinjau Langsung BSPS di Jakarta Barat
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman meninjau program BSPS di Cengkareng untuk memastikan bantuan bedah rumah sampai tepat sasaran kepada masyarakat berpenghasilan rendah.
24 Oktober 2026

Pemerintah dan Pertamina Percepat Siap Operasional Kilang RDMP Balikpapan
Pemerintah dan Pertamina memastikan kesiapan operasional Kilang RDMP Balikpapan dengan progres 99 persen, demi menjaga keandalan pasokan energi nasional.
24 Oktober 2026

Pemerintah Perkuat Rantai Pasok Pangan Hadapi Tantangan Iklim
Menteri Pertanian menekankan perlunya perbaikan rantai pasok pangan untuk mengatasi disparitas harga antara peternak dan konsumen di tengah ancaman iklim ekstrem.
24 Oktober 2026
Berita Lainnya

D-8 Dorong Perdamaian Melalui Diplomasi dan Kolaborasi Ekonomi
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.26 WITA

Madrasah Harus Jadi Ruang Belajar Inklusif dan Aman Digital
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.26 WITA

PLTS Terapung di Waduk Tembesi Capai 74 Persen Progres
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.25 WITA

OJK Sultra Dorong Inklusi Keuangan Lewat BIK 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.25 WITA
Sulut Juara Umum Kejurnas Pacuan Kuda 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.23 WITA

7 Kebiasaan Sederhana untuk Hidup Lebih Bahagia
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.21 WITA

Makan Sebelum dan Sesudah Olahraga, Kunci Optimalisasi Performa Tubuh
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.20 WITA

Monako Ungguli Dunia sebagai Tempat Tinggal Terbaik 2026
Sabtu, 24 Oktober 2026, 23.11 WITA

