Minggu, 4 Oktober 2026
iNarasikita — Mengubah Scroll Menjadi Senyuman

Teknologi Pengereman ABS Jadi Kunci Turunkan Kematian Lalu Lintas

Riset ITB menyoroti peran ABS pada sepeda motor sebagai solusi krusial untuk mencapai target pemerintah memangkas kematian akibat kecelakaan hingga 2030.

Oleh iNarasikitaRedaksi iNarasikita·Minggu, 4 Oktober 2026, 15.46 WITA·👁 1 orang membaca· 1 hari ini · 2x dibuka
Teknologi Pengereman ABS Jadi Kunci Turunkan Kematian Lalu Lintas📷 ANTARA

Kendari, ıNarasikita - Tantangan besar menghadang upaya pemerintah menurunkan angka kematian akibat kecelakaan lalu lintas hingga 15.160 jiwa pada tahun 2030, sebagaimana diungkapkan dalam hasil riset Institut Teknologi Bandung (ITB). Data tahun 2024 mencatat 26.839 jiwa meninggal dunia akibat kecelakaan, menunjukkan peningkatan 6,2 persen dibandingkan tahun 2021. Peningkatan ini menyoroti urgensi intervensi sistemik yang berbasis pada analisis akar masalah keselamatan jalan.

Peneliti ITB, Sony Sulaksono Wibowo, menekankan bahwa sepeda motor menjadi fokus utama karena mendominasi lalu lintas nasional. Dari total kendaraan terdaftar, 84 persen berupa sepeda motor, sementara 73 persen dari lebih 149 ribu kecelakaan setiap tahun melibatkan kendaraan roda dua. Dalam konteks ini, riset menyoroti potensi bahaya yang melekat pada desain dan teknologi kendaraan, khususnya pada sistem pengereman yang sering kali gagal menangani situasi darurat secara efektif.

Riset mengungkapkan bahwa roda sepeda motor dapat terkunci dalam waktu kurang dari 0,2 detik, jauh lebih cepat dari waktu reaksi manusia yang rata-rata mencapai 0,75 detik saat panik. Dalam kondisi kritis seperti ini, teknologi pengereman canggih menjadi penentu utama keselamatan. Dibandingkan dengan Combined Braking System (CBS) yang hanya mendistribusikan gaya pengereman secara bersamaan, Anti-lock Braking System (ABS) mampu mencegah terkuncinya roda saat pengereman keras, sehingga menjaga kontrol kendaraan.

Dua skenario penerapan teknologi ABS diusulkan untuk diterapkan mulai 2027. Skenario pertama membatasi ABS pada sepeda motor di atas 125 cc, dengan CBS atau ABS untuk yang di bawahnya. Skenario kedua menyarankan ABS wajib untuk seluruh sepeda motor baru. Proyeksi menunjukkan bahwa tanpa intervensi, jumlah kematian akibat kecelakaan bisa mencapai 31.733 jiwa per tahun pada 2045, jauh melampaui target 11.679 jiwa. Dengan penerapan ABS, potensi pengurangan kematian dapat mencapai 26.679 hingga 111.163 jiwa hingga 2045, tergantung skenario.

Anggota Komisi V DPR RI, Sofwan Dedy Ardyanto, menyatakan bahwa ABS merupakan solusi jangka pendek yang efektif untuk menekan angka kecelakaan bersepeda motor. Hasil riset ITB dan rekomendasi kebijakan telah diserahkan kepada Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan melalui Pijar Foundation untuk menjadi dasar pertimbangan kebijakan nasional dalam upaya mewujudkan lalu lintas yang lebih aman dan berkelanjutan.

Komentar Pembaca (0)

Tanpa daftar · komentar bertautan ditinjau dulu

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Iklan
Iklan

Berita Terkait

Berita Lainnya